Lihat juga: Peristiwa 65 dalam Rekaman Dokumen Intelijen CIA (1)
Berdasarkan penelusuran CNN Indonesia terhadap dokumen yang dirilis dalam situs berita badan telik sandi Amerika, pada tanggal 6 Oktober 1965, disebutkan bahwa CIA menilai hubungan Presiden Soekarno dan petinggi militer terus meruncing. Pada hari itu, CIA menyebut sebuah langkah berani dari Soekarno yang mau menerima media di Istana Bogor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam pidatonya, seperti yang CIA rekam, Soebandrio mengatakan amanat yang disampaikan oleh Presiden Soekarno bahwa semua pihak harus bisa menahan diri. Presiden Soekarno menyesalkan adanya beberapa aksi balas dendam sepihak yang dilakukan di daerah-daerah dan memerintahkan sesegera mungkin untuk dihentikan.
Sedangkan kondisi ibu kota, masih menurut laporan CIA kala itu, sudah memanas. Beberapa aksi unjuk rasa penentangan terhadap komunis mulai sedikit berbau bentrokan dengan simpatisan komunis.
Menteri Penerangan membredel dan memberhentikan seluruh penerbitan yang terafiliasi dengan partai komunis. Sedangkan militer malah dinilai CIA membekingi beberapa penerbitan koran ibu kota yang melancarkan isu pengganyangan komunis.
Lihat juga: Dokumen CIA yang Memotret Aksi Antikomunis di Ibu Kota (4)
Tahun ini persis setengah abad peringatan terjadinya tragedi 1965. Rabu lalu, Badan intelijen Amerika Serikat membuka kepada publik memo intelijen yang disampaikan kepada presiden mereka dalam kurun waktu 1961-1969. Pada periode Oktober 1965, tema laporan didominasi oleh peristiwa kudeta yang gagal oleh Untung dan pendukungnya dari partai Komunis di Indonesia. (sip)