Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri, Komisaris Besar Suharsono mengatakan kondisi kedua WNI tersebut sehat. Sayangnya, petugas kepolisian setempat kesulitan mengorek informasi dari Sudirman ataupun Badar. "Berdasarkan pemeriksaan mereka lebih memilih diam kepada penyidik maupun keluarga sehingga kita minim mendapatkan informasi," kata Suharsono saat dihubungi awak media, Senin (21/9).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, yang penting sekarang adalah kondisi keduanya sudah lebih baik dibandingkan saat pertama diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Ketika itu keduanya dalam kondisi fisik yang lemah. (Baca: Tiba di Jayapura, Dua WNI Sandera dalam Kondisi Lemah)
Sebelumnya kedua sandera tersebut semestinya bisa bebas Rabu (16/9) tapi terkendala faktor cuaca hingga akhirnya baru bisa dibebaskan pada Jumat (18/9). Menurut Menkopolhukam Luhut Binsar Pandjaitan, helikopter penjemput sempat tidak bisa mencapai lokasi sandera karena terhalang cuaca buruk.
Sudirman dan Badar diserang di Keerom, Papua, saat sedang bekerja mengolah kayu bersama rekan-rekannya. Mereka lantas dibawa menyeberang ke Vanimo, Papua Nugini.
Tak hanya mengorek keterangan dari para korban, saat ini pihak Army Papua Nugini pun tengah intensif memeriksa para pelaku yang diduga telah menyandera Badar dan Sudirman.
Suharsono menyebutkan bahwa Army Papua Nugini telah mengamankan sejumlah orang dan memeriksa apakah orang-orang tersebut benar-benar ada kaitannya dengan penyanderaan atau tidak. (Baca: Militer PNG Tangkap 7 Orang Anggota Kelompok Penyandera WNI)
"Informasinya mereka diperiksa melihat apakah ada keterkaitan, melihat, atau mengetahui, bahkan berhubungan dengan perkara," katanya. "Perkembangan lebih lanjut kami juga masih menunggu dari pihak Papua Nugini untuk memastikan siapa mereka dan peran mereka." (obs)