Nama “Buyung” bukanlah asma bawaan lahir lelaki pendiri Lembaga Bantuan Hukum Jakarta itu. Buyung adalah panggilan akrab bagi kerabat dan rekan semasa hidupnya. Namun nyaris sepenuh hidupnya, itulah nama yang publik kenal.
Dari berbagai sumber literatur, Buyung mempelopori banyak hal bagi republik ini. Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Harian Kedaulatan Rakyat dan Kantor Berita ANTARA adalah beberapa hal yang pernah ia mulakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kehidupan lantas berpindah dari kota gudeg ke ibu kota. Saat menginjak sekolah menengah atas, Buyung bersekolah di SMA Negeri 1 Jakarta. Di sekolah itu ia aktif berorganisasi, hingga akhirnya menjabat Ketua Cabang Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI), yang belakangan dibubarkan karena mengandung unsur komunis.
Lihat juga:'Bang Buyung Selalu Bantu Banyak Orang' |
Setelah setahun menganggur, Buyung kemudian mendirikan Lembaga Bantuan Hukum Jakarta dan membuka kantor pengacara (advokat). Panjang jalan pendirian lembaga yang kini banyak mengadvokasi kalangan lemah. Ide awal ia sempat utarakan ke Kepala Kejaksaan Agung Soeparto. Namun mental saat itu.
Tak menyerah, ia coba jalan lain. Buyung lantas mendekati Ali Moertopo. Lewat sang tangan kanan Soeharto itu, gagasan Buyung disetujui pemerintah. Pada 28 Oktober 1970, lembaga itu berdiri. Buyung adalah ketua pertamanya. Sebanyak 10 skuter adalah modal pertama yang pemerintah berikan kepada LBH Jakarta.
Buyung tak pernah berbicara pelan. Teriakannya selalu saja lantang. Bahkan, pada saat terakhirnya ia masih tetap ingin bicara dengan siapa saja. “Bapak bicara lewat tulisan, sebab mulutnya dipasangi ventilator. Ia gigih, sampai-sampai kami keluarganya diminta dokter keluar agar dia berhenti bicara dan berisitirahat,” ujar Pia Akbar Nasution, putri Buyung kepada CNN Indonesia, akhir pekan lalu.
Selasa pagi, kabar itu akhirnya beredar. Buyung wafat. Ia beristirahat. Selamat jalan Bang ‘Buyung’. Saya baru tahu itu bukan nama aslimu. (sip)