Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), YB Widodo, mengatakan dalam penelitiannya di tiga wilayah eks Kerasidenan Surakarta yakni Sragen, Klaten dan Sukoharjo diketahui modernisasi menyebabkan pemuda desa lebih memilih migrasi ke kota.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemuda pedesaan yang modern ini yang membuat fenomena migrasi dari desa ke kota. Pada akhirnya pertanian di pedesaan semakin ditinggalkan," katanya.
"Lahan pertanian itu dulu saat swasembada pangan 17 juta hektar sekarang jadi 9 juta hektar,"ujar Widodo.
Untuk mengatasi hal tersebut, Widodo menjelaskan pendidikan pertanian di usia dini sangat penting untuk menumbuhkan minat pemuda-pemudi di Indonesia. Dia mencontohkan Jepang yang berhasil menerapkan hal tersebut.
"Di Jepang itu pendidikan usia dini berjalan, makannya di sana pemudanya minat terhadap pertanian,"ujarnya.
Sementara itu, Gutomo Bayu Aji, peneliti LIPI lainnya mengatakan kurangnya variasi teknik budidaya pertanian menyebabkan kurangnya minat pemuda dalam bidang agraria.
Gutomo berharap pemerintah bekerja sama dengan swasta untuk menciptakan variasi pertanian sehingga pemuda desa menjadi kreatif dan terdorong untuk terus memajukan dunia pertanian.
Menurutnya, jika hal tersebut berjalan baik, maka krisis regenasi petani di Indonesia bisa ditanggulangi.
"Teknologi serta variasi teknik budidaya pertanian perlu dibudayakan di kalangan pemuda pedesaan terutama pada situasi media lahan pertanian yang terbatas," ujar Gutomo. (utd)