Hafizd Mukti Ahmad
Pernah berprofesi sebagai jurnalis sejak 2009 di sejumlah media nasional, gemar memasak, jalan-jalan dan bermain musik​.​

Kolom

Prostitusi Artis Ibarat Kentut

Hafizd Mukti Ahmad, CNN Indonesia | Kamis, 08/10/2015 17:10 WIB
Prostitusi Artis Ibarat Kentut Terdakwa penyedia jasa prostitusi artis Robbie Abbas (RA) usai menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa, 6 Oktober 2015. Sebelumnya Jaksa berencana menghadirkan 2 orang saksi artis, ternyata hari ini hanya menghadirkan satu orang saksi dari pihak penyidik. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hafizd Mukti adalah wartawan di CNN Indonesia. Tulisan opini ini sepenuhnya tanggung jawab penulis.

Robbie Abbas tak akan kita kenal namanya seandainya tidak tersandung kasus mucikari prostitusi online yang melibatkan beberapa nama artis terkenal.

Konon profesi sebagai germo -istilah lain mucikari- dijalani Robbie sejak 2012. Sebelumnya Robbie adalah penata rias berpenghasilan Rp700 ribu. Profesi yang ia jalani dari 1998.


Bukan hanya artis, Robbie mengaku Pekerja Seks Komersial (PSK) yang disalurkannya berasal dari berbagai kalangan kelas atas. Namun dari sekitar 200 orang PSK yang disalurkannya, separuhnya memang berstatus artis. Dengan usia berkisar antara 23 hingga 30 tahun.

Tarif para PSK yang dikelola Robbie Abbas fantastis. Untuk sekali kencan short time dipatok harga Rp30 juta sampai Rp200 juta. Entah kalau harus menemani hingga berhari-hari. Susah bahkan untuk sekadar menduganya.

Apa yang membuatnya begitu mahal alias premium?
Mengutip Guru Besar Psikologi UGM Prof. Koentjoro, Bisnis protitusi online kelas atas, terbentuk berkaitan dengan kemajuan zaman, terutama bagaimana perkembangan teknologi informasi terhadap kehidupan sehari-hari.

Tak hanya itu, keengganan para artis untuk berada dalam sebuah lokalisasi, kerena status keartisan mereka yang membuat publik begitu tertarik dalam bentukan representasi, media.

Kembali soal harga, ukuran Rp30 hingga Rp200 juta untuk short time hitungan jam, jika membayangkan sekuat tenaga saya, saya mungkin harus mati dan bangkit lagi dari kubur berkali-kali, juga kerja 'rodi’ tak henti jika saya masih memilih bekerja sebagai jurnalis untuk merasakan tidur dengan selebritis asuhan Robbie. Namun tentu tidak seberapa bagi pelanggan kakap, yang nyata-nyata membuat Robbie begitu harum namanya dalam lingkaran prostitusi artis dan meninggalkan karier sebagai make-up artist.

Prostitusi kelas atas mengandalkan hasrat ragawi yang sudah jelas dimiliki setiap manusia bernyawa yang dibenturkan dengan imajenasi dan lebih jauh. Fantasi dan sensasi, juga rasa bangga bisa meniduri mereka yang berada satu level di atas masyarakat pada umumnya, juga memberikan nilai 'jual' yang melintir .
Imajinasi, persepsi, fantasi juga sensasi yang selama ini dilekatkan pada selebritis diramu sedemikan rupa untuk mendulang banyak uang dari prostitusi. Tentu dengan sedikit bantuan teknologi.

Sensasi dibentuk atau terbentuk karena para PSK-nya adalah mereka-mereka yang secara sosial, dipersepsikan hampir tidak mungkin berprofesi di dunia esek-esek. Juga diperlukan upaya besar jika ingin mendapatkan kepuasan ragawi dari kemolekan mereka yang biasa dipandangi dari layar televisi.

Sensasi dikapitalisasi PSK artis itu sendiri, dikawinkan dengan persepsi yang ada ditengah masyarakat. Tentu dibantu germonya, dalam kasus oleh saudara Robbie yang berhasil melambungkan harga, bermodal fantasi, sensasi, menghasilkan bentuk prostitusi "kelas atas" (baca;artis).

Sudut penonton, alias masyarakat, inisial para selebriti yang muncul menjadi bahan pergunjingan, meskipun sampai saat ini baru Robbie yang terancam kurungan jeruji besi karena nama-nama artis yang keluar hanya sebatas saksi.

Walau tidak menjelaskan siapa saksi dari kalangan artis yang akan hadir, Pieter Ell yang menjadi kuasa hukum Robbie sempat menunjukan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kepada media. Tercantum dua nama artis yaitu Tyas Mirasih dan Shinta Bachir yang berstatus sebagai saksi, ingat mereka berdua sebatas saksi, yang tidak jadi hadir dalam persidangan Selasa (6/10) di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, pun sidang terakhir, Kamis (8/10)

Status selebriti barang tentu menarik perhatian publik, menciptakan persepsi dan membentuk citra sendiri, bahkan membuat artis bagian dari imajenasi masyarakat. Pekerjaan artis ibarat menarik sebanyak mungkin mata masyarakat agar perhatian tertuju kepadanya, tentu dengan pekerjaan keartisannya.

Masyarakat seakan 'terhibur' dalam bentuk tebak-tebakan atau "kuis tebak inisial" yang menjadi penghangat obrolan warung kopi. Siapa saja yang menjadi 'anak didik' Robbie? Yang selanjutnya akan terungkap dalam persidangan, setelah menghadirkan saksi-saksi, setidaknya ada tiga saksi selebritis sejauh ini, AA, TM dan SB.

Sebelum terungkap kasus Robbie dan 'anak-anaknya', prostitusi artis ibarat kentut dengan bau yang merebak di tengah masyarakat. Tercium baunya, tapi publik memilih diam dan hanya menebak-nebak berdasarkan asumsi semata mencari pusat bau itu bermula?

Masuknya kasus prostitusi online yang melibatkan selebriti sebagai pejaja raga di ranah hukum seakan menjadi "pelipur lara" publik yang memunculkan pernyataan "bener kan tebakan gue?” Menjajakan nikmat syahwat dengan nilai plus berupa sensasi juga fantasi berhubungan badan bareng selebriti membuat harga ‘badan' meroket hingga titik kulminasi di angka Rp200 juta satu kali 'main'.
Robbie sesaat dianggap dewa penyelamat bagi para pengarung dunia showbiz tanah air, setidaknya untuk memenuhi dapur, liburan, perawatan tubuh atau kebutuhan tersier ala-ala seleb, saat sepi order.

Pun, Robbie "berjasa" secara sosial, karena membuka jendela rasa penasaran publik jika prostitusi memang ada dalam level yang lebih tinggi, bukan hanya pelacuran yang dilokalisasi di sudut-sudut kota, dengan ragam status si pencari jasa yang tentu bukan orang biasa.

Teknologi informasi suka tidak suka menjadi etalase "layanan" birahi dalam tingkatan berikutnya, setidaknya kesempatan itu jeli dikelola Robbie dalam menangkap 'semangat zaman’ yang serba berbasis teknologi lalu ia duetkan bareng prostitusi dengan bumbu, fantasi, imajenasi, persepsi publik dan sensasi pelanggan. racikan itu cukup bagi Robbie percaya diri menjual "tubuh" artis dengan rerata Rp30 hingga Rp200 juta.

Hingga kemudian Robbie tersandung sial terjerat polisi dan terancam menanggung beban karena melanggar pasal 296 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana juncto pasal 506 KUHP. Ancamannya satu tahun empat bulan kurungan badan.

Bra dan celana dalam hitam menjadi barang bukti yang dipegang polisi, milik artis AA dalam operasi tangkap tangan Robbie, yang katanya artis AA dihargai Rp80 juta. Ah, lagi-lagi hanya untuk short time saja. Setelah AA, merambat ke nama-nama lain, meskipun belum terungkap dalam persidangan, puluhan inisial 'anak didik' Robbie telah menyebar, dan sekali lagi, itu menjadi 'jasa' lain Robbie atas publik, yaitu hiburan berupa, lagi-lagi 'kuis tebak-tebakan’.

Persidangan lah yang akan memberikan jawaban atas rasa penasaran publik, (begitupun saya punya penasaran yang sama besar) juga menghentikan prasangka dan pergunjingan. Dalam hal ini bentuk prasangka juga gunjing adalah persoalan yang sebenarnya ingin saya hindari--setidaknya itu yang selama ini saya yakini, jangan bergunjing, jangan berprasangka, itu satu. Kedua, fakta persidangan akan menghentikan pergunjingan, juga 'fitnah' yang ada dalam kepala.

Meski berupa inisial, publik dengan cepat mencari nama-nama yang paling mendekati, bahkan menjadi topik paling panas di hampir semua lini saat Robbie didapuk sebagai mucikari.

Maka fakta hukum ditunggu untuk menjawab semua pertanyaan, siapa saja mereka, baik pelanggan maupun nama-nama selebriti penjaja birahi, meski sebenarnya fakta-fakta ramuan otak pribadi telah menggumpal di kepala, namun perlu fakta hukum untuk bicara. Sekali lagi, prostitusi artis, ibarat semerbak bau kentut. (dlp)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS