"Ini cara pandang gaya lama. Tidak kontekstual. Hanya didasari pada pandangan nasionalisme sempit saja," kata Haris, melalui pesan singkat kepada CNN Indonesia pada Senin (12/10).
Haris menjelaskan bela negara telah dilakukan WNI dengan berbagai cara sesuai dengan kemampuan warga. Adanya wacana penerapan bela negara justru menyebabkan pemborosan anggaran. Menurutnya, anggaran tersebut lebih baik digunakan untuk penataan institusi negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Haris menjelaskan penerapan bela negara juga membuat kesan masyarakat yang menjadi masalah. Pandangan seperti itu, menurut Haris, akan membuat negara semakin mundur. "Kebijakan ini seolah-olah negara di dalam dirinya tidak ada masalah dan melihat masyarakat lah masalah. Ini kemunduran," kata Haris.
Kementerian Pertahanan berencana membuka program ini di 45 kabupaten dan kota, 19 Oktober mendatang, dengan program pembentukan kader pembina bela negara.
Ryamizard mengatakan, Presiden Joko Widodo akan mencanangkan grand desain program bela negara yang akan menjadi acuan setiap lembaga negara maupun seluruh organisasi masyarakat. Ia berkata, bela negara bukanlah tanggung jawab Kemhan semata, karena ke depan rencananya, pemerintah daerahlah yang diminta meneruskan program tersebut.
(bag/bag)