"Menurut hemat saya, satu tahun pemerintah ini cukup bagus. Walaupun barangkali tidak ada yang sempurna, maka ke depan harus ada penyempurnaan yang lebih baik," kata Hasanuddin saat ditemui di Gedung DPR, Selasa (20/10).
Meski kesejahteraan rakyat menjadi prioritas pemerintah, Hasanuddin menilai upaya mendongkrak perekonomian bakal sia-sia jika tidak dibarengi pendekatan keamanan negara. Hal tersebut dianggap sudah menjadi teori klasik negara besar yang memiliki perekonomian kuat dengan ditunjang angkatan bersenjata yang juga tangguh.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di ranah domestik, kata Hasanuddin, ancaman itu hadir dalam bentuk illegal logging, iliegal fishing, dan illegal mining. Ancaman dalam negeri itu dianggap telah mengeruk habis sumber daya alam di Indonesia.
"Misal seperti ikan-ikan itu dicuri. Satu tahun bisa berapa ratus triliun. Dengan mengeluarkan uang mungkin puluhan triliun (untuk MEF), kita sudah bisa mengamankan wilayah kesatuan RI," kata dia Hasanuddin.
Sementara itu, berkaitan dengan dunia politik luar negeri, daya tawar politik Indonesia saat ini dinilai masih belum terlalu kuat. Posisi tawar politik suatu negara dipandang perlu diiringi kemampuan angkatan bersenjata yang kuat pula.
Menurut Hasanuddin, praktik penguatan pertahanan demi meningkatkan daya tawar politik luar negeri telah diterapkan oleh negara-negara besar. Ketika politik luar negeri tidak ditunjang kekuatan angkatan bersenjata yang besar, kata dia, maka suatu negara dipastikan tidak bakal memiliki nilai tawar yang cukup.
"Itu sudah menjadi teori lama. Jadi tidak bisa dengan ngomong saja. Di belakangnya harus ada sebuah kekuatan," kata dia. (rdk)