Suku Anak Dalam yang juga dikenal dengan sebutan Suku Kubu atau Orang Rimba misalnya, kata Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Abednego Tarigan, bingung mencari tempat pengungsian.
“Kalau mereka sampai keluar, ke kota, artinya daerah dekat rumah mereka sudah terkena bencana. Kondisi mereka lebih rentan karena tinggal di hutan,” kata Abed.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Satwa dan Tanaman Langka Juga Terancam Asap |
Di dalam rumah berbahan batu bata pun, warga sulit bernapas. Menurut Afni, asap yang mereka hirup mengandung serbuk-serbuk yang menimbulkan rasa pedas dan panas di rongga hidung.
Tak heran, ujar Abed, suku-suku di pedalaman merasakan derita yang lebih parah. “Akhirnya mereka mencari lokasi yang lebih segar dengan oksigen lebih bagus. Itu mau-tak mau harus mereka lakukan,” kata dia.
Simak Fokus: KEBAKARAN HUTAN, PEMERINTAH GAGAL?
Minggu kemarin misalnya, Orang Rimba yang tinggal di pedalaman Jambi berjalan kaki menuju Sumatra Barat dan Riau karena hutan mereka terbakar. Sedikitnya 20 orang anggota suku itu, dengan bekal seadanya, menyusuri hutan ke Payakumbuh, Sumbar, hingga ke Pelalawan, Riau, menuju Jambi.
Setelah berjalan ratusan kilometer, orang-orang Rimba itu lantas tidur di tepi jalan dengan membentangkan tikar sebagai alas. Meski pergi jauh, mereka berniat untuk kembali ke rumah mereka di hutan belantara.
Pemerintah setempat kemudian menjanjikan pada Orang Rimba untuk membangun kembali rumah mereka yang terbakar. Janji itu akhirnya membuat mereka pulang setelah berputar-putar menghindari kepungan api dan asap. (agk)