"Tanpa resolusi jihad maka tidak ada perlawanan yang heroik. Jika tidak ada perlawanan heroik, berarti tidak ada Hari Pahlawan tanggal 10 November, "ujarnya saat menghadiri kirab Hari Santri Nasional di Tugu Proklamasi, Jakarta, Kamis (22/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah merdeka, barulah TNI lahir. Jadi yang memerdekakan bangsa ini bukan TNI, tetapi Bapak dan Ibu, sehingga TNI adalah anak kandung rakyat,” katanya. Gatot berkata, para santri juga memegang peran penting pada pembentukan TNI yang tidak sedikit.
Gatot berharap para peserta pawai dapat meniru para ulama dan santri yang menjadi guru tentang makna perjuangan kemerdekaan Indonesia. "Ulama dan santri bukan sekadar pejuang, tetapi sebagai pelaku perjuangan itu sendiri terutama dalam konteks resolusi jihad dalam melawan penjajah," ucapnya.
Pekan lalu, Menteri Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengatakan keputusan Presiden Joko Widodo untuk menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional didahului masukan para menteri terkait persoalan ini.
"Mereka memberikan dukungan terhadap rencana penetapan Hari Santri pada 22 Oktober dan pada tanggal tersebut bukan hari libur nasional," ujarnya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.
Penetapan Hari Santri ini pelunasan terhadap salah satu janji Jokowi yang diucapkannya kala kampanye Pemilihan Presiden 2014. Pada saat itu ia berikrar untuk menetapkan sebuah tanggal sebagai Hari Santri Nasional.
Awalnya, Jokowi tidak menjanjikan tanggal 22 Oktober sebagai peringatan hari santri. Sebelumnya, mantan Gubernur DKI Jakarta itu mengusulkan tanggal 1 Muharam. (obs)