Lukman menjelaskan, agama Islam yang dianut para santri adalah rahmatan lil alamin yang mampu beradaptasi dan berdialog dengan budaya lokal dan cara berpikir maayarakat yang majemuk.
"Itu sebabnya santri di sini tidak dimaknai secara sempit sebatas kaum sarungan yang belajar dan mengembangkan ilmu di pondok pesantren. Secara luas santri dimaknai sebagai umat Islam Indonesia yang mengajarkan ajaran Islam sesuai konteksnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia," ujar Lukman di Jakarta, kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lukman bercerita, tanggal tersebut sebenarnya menyangkut peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW yang kemudian mempertemukan dua kelompok umat Islam, yakni kaum Muhajirin yang tinggal di Mekkah dan kaum Anshor di Madinah.
Lihat juga:PBNU Sindir Muhammadiyah Soal Hari Santri |
Oleh karena itu, ucap Lukman, peringatan Hari Santri Nasional harus dimaknai sebagai upaya memperkokoh eksistensi semua elemen bangsa agar saling berkontribusi mewujudkan masyarakat Indonesia yang bermartabat, berkemajuan, berkesejahteraan, berkemakmuran, dan berkeadilan.
"Peristiwa itu yang di kemudian harinya diperingati sebagai Hari Pahlawan," ujar dia.
Hal itulah, ujar dia, yang menjadi intisari jihad, yakni melawan segala penindasan, baik fisik maupun non fisik dan menghalangi terwujudnya keadaan yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Ia mengatakan, dalam konteks sekarang, jihad berarti membebaskan diri dari kebodohan, korupsi, anarkisme, dan ketimpangan ekonomi yang menghalangi kemajuan Indonesia.
"Penetapan Hari Santri merupakan apresiasi tinggi dari pemerintah bagi kalangan santri yang besar jaasanya bagi republik ini, namun lebih dari sekedar apresiasi, Hari Santri ini juga merupakan wujud komitmen pemerintah untuk mengangkat harkat dan martabat kaum santri yang selama ini termarjinalkan dan dipersepsikan sebagai kelompok terbelakang," kata dia.
Lukman menegaskan, pemerintah saat ini mengubah peran santri dari sekedar objek komoditas politik menjadi subjek penggerak pembangunan Indonesia. Karenanya, kata dia, pemerintah mengupayakan agar para santri dan lulusan pendidikan lembaga Islam memiliki daya saing yang lebih tinggi di tengah kompetisi global.
Menurut Lukman, para santri adalah modal besar bagi indonesia untuk memanfaatkan bonus demografi dalam kurun waktu hingga satu dasawarsa mendatang.
Ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri, kata Lukman, pada dasarnya adalah penegasan bahwa Indonesia merupakan negara demokratis sekaligus religius, sehingga mendorong kesadaran kolektif akan pentingnya mempertahankan religiusitas Indonesia dan moderat di tengah percaturan ideologi agama yang cenderung ekstrem. (utd)