Nasir menyebutkan, beberapa PT yang telah aktif membantu menangani dampak karhutla, di antaranya Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Andalas, Universitas Riau, serta Universitas Lampung.
"ITB membuat alat Fresh-On 2015, di mana alat ini mampu menyaring partikel yang sangat kecil hingga berdiameter 50 nano meter yang melayang di udara bersama asap pekat beracun," kata Nasir saat konferensi pers di gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta, Kamis (5/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami juga menghargai UI yang telah membuka Posko UI Peduli melawan asap di lokasi bencana asap, seperti di Desa Rimo Panjang, Kampar, dan Pekanbaru," kata Nasir.
Sebelumnya, Rektor UGM Dwikorita Karnawati mengungkapkan, ia telah menyampaikan kepada Presiden dan para menteri terkait mengenai hasil kajian Kelompok Kerja Gambut UGM yang kajiannya telah dilakukan sejak tahun 1974 hingga 2015.
Dwikorita menjelaskan, hasil kajian tersebut menyebutkan bahwa paket upaya untuk mengatasi atau mencegah kebakaran dan kerusakan lahan gambut ke depan perlu dilakukan dengan adanya integrasi beberapa aspek sosial, di antaranya rekayasa sosial dan rekayasa teknis.
Selain itu, papar dia, diperlukan juga integrasi aspek politik dan aspek pembangunan ekonomi dalam hal pengelolaan Hutan Tanaman Industri (HTI) atau perkebunan.
"Dari ketiga aspek yang terintegrasi tadi perlu dengan aspek legal. Peraturan, atau bahkan mungkin penegakan peraturan, harmonisasi peraturan, perbaikan peraturan, serta tata ruang," ujar Dwikorita di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (3/11) lalu. (rdk)