"Tidak ada hubungannya. Yang memanas kan China dan Amerika Serikat, ngapain kita pusing," ujar Gatot di kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Jakarta, kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"TNI setiap saat mengirimkan kapalnya untuk mengawasi zona ekonomi eksklusif," katanya.
Akhir Oktober silam, AS mengerahkan kapal perang mereka ke kawasan sengketa teritorial kepulauan Spratly di Laut Cina Selatan. Kapal perusak milik Angkatan Laut AS, yaitu USS Lassen, terus berlayar hingga hanya berjarak 12 mil laut ke pulau buatan yang dibangun China pada tahun 2014 itu.
Pekan lalu Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Ash Carter, mengunjungi kapal induk USS Theodore Roosevelt yang sedang beroperasi di Laut China Selatan. Saat itu dia mengatakan dengan terbuka, bahwa pemerintah AS menentang proyek reklamasi China di kepulauan Spratly.
Carter pun menyatakan, AS tidak akan menghentikan operasi laut mereka di kawasan Laut China Selatan. Mereka menganggap, kawasan itu merupakan perairan internasional sehingga negara manapun dapat berlayar di sana. (meg)