Kemenkes Ingatkan Ancaman Demam Berdarah Selama Musim Hujan

Utami Diah Kusumawati, CNN Indonesia | Selasa, 10/11/2015 11:33 WIB
Kemenkes Ingatkan Ancaman Demam Berdarah Selama Musim Hujan Petugas Basarnas Kantor SAR Medan mengevakuasi seorang warga yang sakit saat banjir di Kelurahan Beringin, Kecamatan Medan Selayang, Medan, Sumatera Utara, Senin (19/10). Hujan deras yang terjadi Minggu (18/10) malam dan meluapnya Sungai Babura menyebabkan ratusan rumah di sejumlah kecamatan di Medan terendam air. (ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Kesehatan memperingatkan warga akan adanya ancaman penyakit menular akut akibat masuknya musim hujan di Indonesia pada awal November ini. Pergantian iklim tersebut disebutkan berpeluang meningkatkan intensitas perkembangan virus dalam tubuh manusia.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Muhammad Subuh mengatakan penyakit menular akut berpotensi muncul akibat hubungan langsung dengan perubahan cuaca, terutama datangnya musim hujan.
"Kami imbau untuk mewaspadai sejumlah penyakit tertentu, seperti trennya adalah Demam Berdarah Dengue (DBD) pada bulan November ini," kata Subuh saat dihubungi CNN Indonesia, Selasa (10/11).

Selain DBD, Subuh mengatakan tren penyakit yang berpotensi muncul selama musim hujan adalah diare, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan pneumonia atau radang paru. Oleh karena itu, dia mengimbau agar pemerintah daerah lebih waspada dalam mencegah penularan dan peningkatan penyakit-penyakit tersebut.
"Untuk langkah utama penyakit DBD intinya adalah pemberantasan sarang nyamuk dengan cara melakukan kerja bakti dan 3 M yakni menutup, menguras dan menimbun," kata Subuh.


Sementara, untuk penyakit lainnya, Subuh meminta kepada warga untuk menjaga kesehatan dan menjalani perilaku hidup sehat.

Lebih jauh, Subuh mengatakan pihaknya telah mengirimkan surat edaran ke dinas kesehatan daerah untuk melakukan antisipasi atas tren penyakit yang akan terjadi selama musim hujan 2015/2016 ini.

"Saya sudah tanda tangani surat ke Gubernur pada awal November, meminta dinas kesehatan untuk siaga dan responsif terkait pencegahan penyakit luar biasa selama musim hujan ini," kata Subuh.

Menurut Subuh, peran pemerintah daerah dalam menekan angka kejadian luar biasa, termasuk penyakit menular akut, sangat penting. Dia berharap kejadian pada bulan Januari awal tahun ini, di mana kejadian luar biasa meledak dan jumlah penderita meningkat drastis, tidak terulang lagi.
"Oleh karena itu, kami benar-benar menekankan peran aktif masyarakat digerakkan sektor pemerintah daerah, kabupaten kota dan kecamatan desa untuk menekan kejadian luar biasa selama musim hujan ini," kata Subuh.

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan Indonesia telah memasuki awal musim hujan pada bulan November ini. Puncak musim hujan di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) diprediksi akan terjadi pada Desember hingga Februari nanti.

"Berdasarkan trennya sudah memasuki musim hujan. Secara umum, puncak musim hujan di wilayah Jabodetabek terjadi dari Desember hingga Februari," kata Hari Tirto Djatmiko, Kepala Sub Direktorat Informasi BMKG, saat dihubungi CNN Indonesia, Senin (9/11).

Sementara mengenai potensi banjir di Indonesia, Hari mengatakan pada bulan November ini pemerintah perlu mewaspadai beberapa daerah yang berpotensi tinggi dan menengah terkena banjir seperti di antaranya Provinsi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Sedangkan untuk bulan Desember, potensi banjir dengan skala menengah ke atas merata dari Aceh, DKI Jakarta, Kalimantan, hingga Papua dan Maluku. (utd/utd)