"Meski terima sedikit, kalau mereka terima pungutan itu berarti bisa dikenai gratifikasi," kata jenderal polisi berbintang empat itu ketika dikonfirmasi pers setelah menyampaikan pembekalan tertutup kepada anggota Polri di Gedung Mahameru Mapolda Jatim di Surabaya, Selasa.
Kapolri yang berada di Jatim untuk mendampingi Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerja di Jatim pada 9-11 November 2015 itu menegaskan bahwa dugaan keterlibatan pihak lain, seperti Bupati dan Ketua DPRD Lumajang bergantung pada alat bukti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga oknum polisi yang dimaksud adalah Kasubagdalops Polres Lumajang AKP Sudarminto yang juga mantan Kapolsek Pasirian, Ipda Samsul Hadi (Kanit Reskrim Polsek Pasirian) dan Aipda Sigit Pramono (Babinkamtibmas Polsek Pasirian).
Lihat juga:Polisi Masih Jaga Rumah Aktivis Antitambang |
"Kami telah menetapkan tersangka dalam kasus teror SMS kepada tiga wartawan Lumajang yakni HL yang terbukti bersalah dengan dua bukti permulaan yang cukup," ujarnya.
Ia menyatakan dua bukti permulaan yang cukup dimaksud adalah keterangan saksi korban (tiga wartawan Lumajang) dan keterangan saksi ahli. HL terbukti melakukan teror SMS itu.
"Sekarang, HL sedang diperiksa sebagai tersangka untuk mengetahui motif teror SMS itu. Kalau sekarang belum bisa diketahui, karena proses pemeriksaan masih sedang berlangsung," ucapnya.
Tiga wartawan Lumajang yang menjadi korban teror SMS dari orang tak dikenal, yakni Wawan Sugiharto (TV-One), Abdul Rochman (Kompas TV), dan Ahmad Arif Ulinnuha (JTV).
"Kita nggak akan berhenti, kita akan tuntaskan kasus itu (kasus tambang pasir ilegal di Lumajang), tapi kita tidak boleh menduga, melainkan semuanya berdasar fakta hukum," katanya di sela "workshop" yang diselenggarakan Imparsial-Polri di Surabaya (4/11).
Dalam pembekalan itu, Kapolri menegaskan bahwa pembinaan bintara Polri selama ini keliru, karena mereka hanya diperintah, padahal bintara itu harus diberi wawasan agar pintar, karena merekalah yang berada di lapangan dan merepresentasikan negara. "Kalau mereka benar dalam bertindak berarti negara hadir," tukasnya.