“Data resmi dari Kementerian Luar Negeri, sampai saat ini ada sekitar 167 orang yang dideportasi. Sementara kalau yang pulang diam-diam dan tidak dideportasi, datanya memang simpang siur,” ujar Arief kepada CNN Indonesia, Selasa (24/11).
Arief menyatakan, belum ada data detail mengenai tujuan WNI tersebut bertolak ke Suriah. Namun dari informasi umum yang diperoleh, kebanyakan mereka meninggalkan Indonesia dengan alasan “mencari penghidupan” di negara yang tengah bergejolak tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letnan Jenderal (Purn) TNI Sutiyoso sebelumnya mengatakan, ada 100 WNI yang baru kembali dari Suriah. BIN meminta publik waspada terhadap gerak-gerik mencurigakan. Masyarakat juga diminta melapor jika terjadi keanehan.
Arief Dharmawan menyatakan, saat ini BNPT memang masih mewaspadai gerakan the lone wolf, istilah yang disematkan kepada aksi teror yang dilakukan seorang diri dan tak terorganisir. Kewaspadaan ini semakin ditingkatkan setelah terjadi serangan mematikan di Paris, Perancis, 13 November lalu.
“Kalau gerakan terorisme dulu itu terpusat, terorganisir, memiliki persiapan jelas dengan target yang jelas, sekarang berubah. Sekarang dipecah-pecah, dengan sistem sel,” ujar Arief.
Terkait rekaman suara yang mengaku sebagai teroris Santoso, BNPT belum bisa memastikan apakah suara itu benar dari dia yang selama ini masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Pelacakan akun Facebook yang menyebar rekaman tersebut juga masih dilakukan,” katanya.
“Masih dilakukan tetapi belum ada progres,” tutur Arief. (rdk)