Dalam transkripsi pertemuan pada 8 Juni 2015 lalu itu, ada kutipan pernyataan Jokowi membelot dari 'instruksi' Megawati. Megawati pun geram.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Posisi PDIP yang merupakan partai pengusung Jokowi kala itu, mendukung penuh Budi menjadi Kapolri. Namun rupanya Jokowi bersebrangan dengan partai. Ia berkeras menolak untuk melantik Budi dengan alasan demi kepentingan masyarakat. Budi saat itu tersandung kasus suap dan gratifikasi yang disidik oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.
SN (Setya Novanto): Semua fraksi ngomong tapi semua ngomong BG (Budi Gunawan), semua ngomong BG. PDIP ngantem Presiden. Dia berbisik-bisik, masak PDIP sendiri ngantem saya, saya kan Presiden. Tapi gak peduli apapun kehendak Bu Mega gak peduli. Dijawab pertanyaannya. Setelah saya dengarkan semua soal Pak Budi Gunawan, semua saya turut tampung tetapi mekanismenya adalah saya serahkan kepada Kapolri yang terpilih. Persisnya itu dibaca begitu. Dibaca. Ini pengalaman Pak ya. Selesai, sampailah cerita itu ke Ibu Mega. Marahlah pokoknya, sampai ke Solo dan macam-macam.
MR (M Reza Chalid): Di Solo ada…., ada Surya Paloh, ada si Pak Wiranto pokoknya koalisi mereka, dimaki-maki Pak, Jokowi itu sama Megawati di Solo. Dia tolak BG. Gila itu, saraf itu. Padahal, ini orang baik kekuatannya apa, kok sampai seleher melawan Megawati. Terus kenapa dia menolak BG. Padahal pada waktu Pilpres, kita mesti menang Pak. Kita mesti menang Pak dari Prabowo ini. Kalian operasi, simpul-simpulnya Babimnas. Bapak ahlinya, saya tahu saya tahu itu. Babimnas itu bergerak atas gerakannya BG sama Pak Syafruddin. Syafruddin itu Propam. Polda-polda diminta untuk bergerak ke sana. Rusaklah kita punya di lapangan.
[Gambas:Video CNN] (ded/ded)