Prasetyo mengaku mendapat pujian itu saat hadir di Konferensi Jaksa Agung ASEAN dan Tiongkok bulan lalu.
Lihat juga:Adik Freddy Budiman Dituntut Hukuman Mati |
"Saat saya kemarin mengikuti konferensi Jaksa Agung se-ASEAN dan China, semua mengapresiasi Indonesia yang mampu melakukan hal yang tegas dalam pemusnahan kejahatan tersebut," kata Prasetyo di Gedung Badan Pendidikan dan Pelatihan Kejagung, Jakarta, Selasa (15/12).
Prasetyo membantah belum adanya eksekusi saat ini karena desakan dari negara lain yang mengecam. Eksekusi mati terpidana narkotik menurutnya untuk sementara ditunda karena pemerintah masih fokus pada perbaikan ekonomi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Korban (narkotik) paling banyak adalah anak muda usia produktif. Ini menjadi salah satu fokus kami. Memang ada penolakan-penolakan eksekusi mati terpidana narkoba, tapi mereka (yang menolak) tidak memahami bagaimana luar biasanya kejahatan narkoba itu," ujarnya.
Berdasarkan data yang diterima CNNIndonesia.com, anggaran yang dialokasikan Kejagung untuk penanganan dan penyelesaian perkara tindak pidana umum tahun depan adalah Rp307,6 miliar. Dana pelaksanaan eksekusi mati masuk ke dalam pagu anggaran tersebut.
Secara keseluruhan, pagu anggaran yang diajukan Kejagung untuk tahun depan mengalami penurunan jumlah dibanding tahun ini.
Jumlah anggaran tersebut memiliki selisih Rp361,6 miliar dibanding anggaran yang dimiliki Kejagung tahun ini. Untuk 2015 ini, Kejagung diketahui memiliki pagu anggaran hingga Rp5,06 triliun. (sur)