"Tolong kawal kami sebagai keluarga besar," kata Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin ketika memberikan sambutan pada acara Ramah Tamah Manajemen PTFI Bersama Pemangku Kepentingan di Hotel Rimba Papua, Timika, seperti dilansir Antara, Sabtu (26/12).
Maroef mengatakan, saat ini banyak orang-orang di luar Papua yang menunjukkan seolah-olah lebih mengetahui Papua, khususnya Freeport.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maroef mengajak masyarakat Papua untuk menggunakan akal dan hati secara paralel berkaitan dengan pengelolaan Freeport. "Freeport tidak akan berjalan sendiri, tapi jalan bersama tokoh masyarakat Papua," katanya.
"Pikirkan anak cucu. Jangan kita hanya bertengkar. Jika ada masalah yang belum terselesaikan mari kita bicarakan," katanya.
Mengomentari permintaan Maroef, sejumlah pemangku kepentingan yang hadir dalam ramah tamah itu menyatakan mendukung Freeport mendapatkan perpanjangan kontrak di Papua.
Mereka menyatakan akan mengirimkan surat dukungan itu ke pemerintah baik daerah dan pusat serta pihak-pihak yang selama ini selalu membicarakan masalah Freeport.
Lihat juga:Pansus Freeport Dianggap Tak Bermanfaat |
Jika memang masih ada permasalahan antara masyarakat dengan perusahaan seperti masalah hak ulayat lahan dan kompensasi, ia mengatakan setuju itu diselesaikan secara kekeluargaan.
"Kami harap kita bicara lebih terbuka dan detail langsung dengan orang yang punya hak yakni kami dari suku Komoro dan Amungme," katanya.
Namun, ia minta agar masyarakat adat yang ada di sekitar lokasi pertambangan tidak hanya dijadikan sebagai penonton, tapi sebagai pelaku.
Sesepuh masyarakat adat A Allo Rafra minta berbagai pihak agar berhenti membicarakan Freeport jika tidak mengetahui masalah, apa yang terjadi, dan sejarahnya.
"Kembalikan masalah Freeport ke pemerintah dan masyarakat adat," katanya. (antara/bag)