"Hanya delapan orang yang kami duga terkait dengan aksi bom Thamrin. Sisanya tidak," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Inspektur Jenderal Anton Charliyan di Markas Besar Polri, Jakarta, Senin (18/1).
Dari delapan orang tersebut, kata Anton, tiga ditangkap di Cirebon, Jawa Barat; dua di Indramayu, Jawa Barat; satu satu di Balikpapan, Kalimantan Timur; dan dua di Tegal, Jawa Tengah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain melakukan penangkapan, Kepolisian juga telah meminjam empat orang tahanan dari Lembaga Pemasyarakatan Tangerang, kemarin. Mereka dimintai keterangan terkait kasus itu.
Hanya saja, Anton enggan menyebut identitas para pelaku, baik terkait peristiwa teror maupun kepemilikan senjata.
Kepolisian menduga kuat peristiwa teror yang memakan delapan korban jiwa ini disetir oleh warga Indonesia yang berada di Suriah, Bahrun Naim. Dia disebut sebagai petinggi kelompok teror Negara Islam Irak dan Suriah.
Namun, pengamat terorisme Muhammad Jibriel Abdul Rahman berkata sebaliknya. Dia justru menduga dalang dibalik teror tersebut adalah Santoso atau Aman Abdurrahman.
Santoso diketahui sebagai pemimpin kelompok teroris di Poso yang selama ini menyebut dirinya amir Mujahidin Indonesia Timur. Sementara Aman adalah terpidana terorisme yang kini mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.
Jibriel mengaku tahu Bahrun Naim melalui perdebatan soal ISIS yang melibatkan Bahrun. Ia mengenal Bahrun sebagai sosok menghormati orang lain.
"Beliau (Bahrun Naim) bukan dalang pelaku teror di Thamrin," kata Jibriel kepada CNNIndonesia.com, kemarin. (meg)