"Ada beberapa kemungkinan mengapa napi narkotik dan teroris saling berhubungan di dalam penjara. Salah satunya, perlindungan di penjara," kata Sidney saat dihubungi CNN Indonesia, Jumat (22/1).
"Jadi, napi biasa takut dan terintimidasi sama napi-napi teroris ini dan dengan demikian mendekati mereka," kata Sidney.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apalagi narkoba. Oleh karena itu, napi narkoba sengaja dikeruk napi teroris karena dilihat sebagai orang yang terbiasa dengan kekerasan," ujar Sidney.
Sebelumnya, sumber CNNIndonesia.com menyebutkan Freddy Budiman yang menjadi otak pengiriman 1,4 juta pil ekstasi dari Tiongkok, bergabung dengan ISIS.
Freddy dicokok setelah anak buahnya tertangkap Badan Narkotika Nasional ketika hendak menyelundupkan ekstasi. Namun ironisnya, usai ditangkap Freddy masih bisa mengelola bisnis narkotiknya dari dalam Penjara Cipinang.
Narkotik yang dikelola olehnya tersebut adalah CC4. Terungkap belakangan, anak buah Freddy menyulap sebuah pabrik konveksi di Cengkareng, Jakarta Barat, menjadi pabrik narkotik berkapasitas tinggi untuk memasok kebutuhan sindikatnya. Freddy pun divonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat atas dakwaan menjadi otak penyelundupan.
Selain BNPT, Mabes Polri juga menyebutkan sedang menyelidiki dugaan keterkaitan Freddy dengan ISIS. Kadiv Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Anton Charliyan menduga adanya kemungkinan aliran dana narkoba yang dipegang Freddy ikut disumbangkan untuk mendukung kegiatan ISIS.
"Itu bisa saja, karena mereka menghalalkan segala cara. Semua masih dalam penyelidikan," kata Anton.