"Freddy sejak kecil sudah Islam. Dia mengaku umur delapan tahun sudah masuk Islam. Di riwayat pengadilan juga Islam," kata Kepala Sub-Direktorat Komunikasi Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM, Akbar Hadi, kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (23/1).
Hal serupa dikemukakan Kepala Lapas Gunung Sindur, Gumelar. “Kehidupan sehari-hari Freddy di sini baca Alquran, salat. Selalu ikut salat Jumat. Dia juga sopan sama petugas, enggak pernah macam-macam,” ujarnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Freddy, menurut sumber CNNIndonesia.com, telah bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) sejak tahun lalu. “Napi kasus narkoba Freddy Budiman sudah berbaiat ke ISIS. Dia sekarang berpenampilan lebih agamis.”
Bisnis narkotik dari penjara
Perjalanan Freddy sampai ke jeruji besi berawal sejak ia ditangkap pada 28 April 2011 oleh Polda Metro Jaya. Freddy kedapatan menyelundupkan 1,4 juta pil ekstasi dari Tiongkok.
Berselang lima bulan kemudian, ia menghuni Rumah Tahanan Cipinang, Jakarta, hingga proses hukumnya rampung di meja hijau. Freddy dijatuhi hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat atas dakwaan menjadi otak penyelundupan.
Selama November 2012 hingga Juli 2013, ia mendekam di Lapas Khusus Narkotika Cipinang. Selama berada di sel, Freddy ketahuan masih menjalankan bisnis narkotiknya. Bisnis itu dilakukan dari dalam penjara Cipinang.
Pada 29 Juli 2013, ia dipindah ke LP Batu, Nusakambangan. "Kalau dari sisi pengamanan, berdasarkan laporan yang kami terima, Freddy selama di Lapas Batu mendapat pengawalan yang ketat," ujar Akbar Hadi.
Meski telah diawasi sipir, Freddy ketahuan masih menggerakkan peredaran narkotik. Pada April 2015, Freddy diduga menjadi otak produksi narkotik.
Narkotik jenis baru yang disebut CC4 menjadi salah satu barang jualan Freddy. Anak buah Freddy menyulap sebuah pabrik konveksi di Cengkareng, Jakarta Barat, menjadi pabrik narkotik berkapasitas tinggi untuk memasok kebutuhan jaringannya.
"Ketika pindah dari LP Salemba ke LP Gunung Sindur, dia hanya membawa Alquran dan pakaian," kata Akbar.
Selama di Gunung Sindur, menurut Gumelar, Freddy jarang dikunjungi. Jika pun ada, anaknya yang datang berkunjung.