"Saat disampaikan, yang saya tahu di Suriah sudah tidak ada perang. Di sana bantu korban dan dapat bayaran besar tapi besarnya tidak diberi tahu," kata Junaedi di hadapan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Selasa (26/1). Karena tertarik, Junaedi bersedia pergi ke negara konflik itu.
Lihat juga:Polisi Banten Monitor 40 Orang Terduga ISIS |
Dia mengaku diajak Abu Jandal ke Suriah untuk melakukan misi kemanusiaan dengan gaji besar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat di Suriah, Junaedi malah dibayar lebih rendah dari penghasilan biasanya di Indonesia. Dari hasil berjualan bakso, dia bisa mendapat Rp2,5 juta per bulan. Sementara di Suriah dia hanya diberi upah Rp600 ribu.
Saat meminta izin untuk pulang, Abu Jandal melarangnya. Mereka sempat ribut dan berdebat soal itu. Abu Jandal kecewa Junaedi memilih balik ke Indonesia.
"Saya digaji amir (pimpinan) Rp1 juta sebulan. Itu hanya untuk bekal sehari-hari," kata Abdul Hakim yang kini jadi terdakwa di PN Jakarta Barat. Selama di Suriah, dia bertugas sebagai juru masak bagi tentara ISIS.
Hakim berangkat ke Suriah bersama Abu Jandal pada 2013 silam. Dia bertahan selama delapan bulan. Namun Abu Jandal hanya 15 hari di sana, kemudian langsung kembali ke Indonesia. Tahun berikutnya Abu Jandal kembali ke Suriah bersama beberapa simpatisan ISIS asal Indonesia. (sur)