Berita kemenangan Jepang di Pasifik membuat anggota mulai waspada. Cepat atau lambat, pasukan Dai Nippon diyakini akan masuk mengambil alih Hindia Belanda.
Menurut Ryzki Wiryawan, penulis buku “Okultisme di Bandung Dulu: Menelusuri Jejak Gerakan Teosofi dan Freemansory di Bandung”, anggota tarekat sudah mulai memusnahkan dokumen. Sasaran pemusnahan terutama dokumen yang memuat daftar anggota tarekat.
Pengurus Loji Sint Jan, rumah pemujaan perkumpulan Freemason di Bandung pada masa Hindia Belanda. Foto diambil dari buku Gedenkboek van de Vrijmetselarij in Nederlandsch Oost Indie 1767-1917. (CNN Indonesia/Suriyanto) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak cuma menutup loji, tentara Jepang juga menangkapi para anggota tarekat. Mereka lantas dikirim ke kamp konsentrasi di Cimahi. Bangunan kamp konsentrasi tersebut sampai sekarang masih ada dan jadi sebuah Rumah Sakit Dustira di daerah Baros, Cimahi.
Meski di tahanan, para anggota tarekat masih menyempatkan diri melakukan ritual. Kamp tahanan di Cimahi itu menurut Ryzki menjadi semacam loji darurat bagi anggota Freemasonry.
Tenyata bukan hanya anggota Sint Jan yang ditahan di Cimahi. Ada sekitar 300 anggota Freemason dari 21 loji di Hindia Belanda di tahan di sana. Seorang tenaga ahli rontgen di rumah sakit Prof Van Der Plaat memimpin pertemuan-pertemuan yang digelar anggota Freemasonry.
Dalam buku TH Stevens, "Tarekat Mason Bebas Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962", pertemuan digelar di ruangan yang ditulis “Penyakit Menular” dalam bahasa Jepang. Dengan begitu, pertemuan antaranggota mason masih bisa dilakukan.
Loji darurat di Cimahi, kadang disebut Loji Lapangan dalam buku Stevens disebut sebagai De Beproeving.
Sejumlah anggota dikabarkan meninggal di kamp penahanan ini. Bagi mereka yang meninggal, diusahakan, dimakamkan dengan cara masonik yakni dengan menempatkan sebuah jangka dan alat kayu pembuat sudut di tempat pemakaman. (sur)
Pengurus Loji Sint Jan, rumah pemujaan perkumpulan Freemason di Bandung pada masa Hindia Belanda. Foto diambil dari buku Gedenkboek van de Vrijmetselarij in Nederlandsch Oost Indie 1767-1917. (CNN Indonesia/Suriyanto)