Warga ibu kota Republik Indonesia akan menentukan siapa figur yang bakal memerintah mereka untuk lima tahun berikutnya, apakah tetap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, atau tongkat kepemimpinan beralih ke sosok lain.
Saat ini sejumlah pihak telah mulai bersolek. Wajah-wajah ‘penantang’ Ahok bermunculan di bawah bendera beberapa partai politik, mulai dari Ridwan Kamil, Yusril Ihza Mahendra, Sandiaga Uno, Adhyaksa Dault, sampai Ahmad Dhani.
Sejauh ini Ahok mengisyaratkan lebih nyaman maju melalui jalur independen. Ia masih menunggu perkumpulan relawannya di Teman Ahok mengumpulkan satu juta kartu tanda penduduk (KTP) warga Jakarta sebagai syarat mencalonkan diri dari jalur independen.
Sampai saat ini, berdasarkan informasi yang tercantum di situs temanahok.com, total KTP yang sudah terkumpul berjumlah 685.773, masih kurang dari satu juta.
Hanya, seiring dengan mendekatnya Pilkada Jakarta, segala aktivitas Ahok itu belakangan kerap dituding merupakan bagian dari upayanya merebut simpati warga agar terpilih kembali menjadi Gubernur Jakarta.
Tudingan itu antara lain terlontar dari mulut Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta M. Taufik. Ia menyebut program RPTRA –di mana Ahok selalu bertemu langsung dengan warga dalam tiap peresmiannya– merupakan bentuk kampanye yang dilakukan Ahok.
Ahok bergeming. Ia tak lantas berhenti meresmikan RPTRA, malah terus menghadiri peresmian RPTRA yang kini jumlahnya sekitar belasan di berbagai wilayah DKI Jakarta.
Mantan Bupati Belitung Timur itu berkukuh, apa yang dia lakukan itu bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan demi masyarakat Jakarta.
“Saya tak peduli jika nanti tak dipilih lagi, asalkan Jakarta bisa beres,” kata Ahok, berulang kali.
Apakah ucapan Ahok itu dianggap serius atau pemanis, warga yang menilai.
Lain waktu saat Ahok usai meresmikan ruang terbuka hijau di Jagakarsa, Jakarta Selatan, mobil yang ditumpanginya beberapa kali berhenti mendadak di jalan yang hanya muat untuk satu mobil, saking banyaknya warga yang menunggu di pinggir jalan untuk bisa berfoto dengan sang Gubernur.
Ahok pun tak mendiamkan warga. Dia turun dari mobil untuk menyapa mereka, membuat warga kegirangan sekaligus menyebabkan jalanan di sekitar Jagakarsa macet.
Saat itu, sejumlah warga Jagakarsa yang merupakan orang asli Jakarta dan ber-KTP Jakarta mengatakan mendukung Ahok. Namun beberapa orang lainnya menganggap Ahok sudah melupakan wong cilik sehingga ia diramalkan tak bakal terpilih lagi sebagai Gubernur Jakarta.
Berdasarkan survei Center for Strategic and International Studies (CSIS) yang dirilis 25 Januari, tingkat popularitas Ahok berada di peringkat pertama dengan mengantongi 94 persen suara responden, disusul Tantowi Yahya – yang digadang-gadang Golkar– sebanyak 81 persen, dan Ridwan Kamil dengan raihan 71,25 persen.
Dari segi tingkat elektabilitas atau keterpilihan, Ahok juga bertengger di nomor satu dengan perolehan 43,25 persen, disusul Ridwan Kamil sebanyak 17,25 persen.
“Makin banyak orang yang ikut Pilkada DKI Jakarta, makin bagus untuk orang Jakarta,” kata Ahok, kalem.
Pertarungan berebut singgasana DKI Jakarta telah dimulai.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT