"Itu bohong," ujar Syamsudin kepada CNNIndonesia.com.
Syamsudin mengatakan majelis taklim yang dia pimpin tidak berafiliasi dengan ISIS. Pengajaran yang disampaikan, kata dia, fokus pada kajian strategis kepemimpinan (khilafah) dalam menguasai dunia demi menghapus penjajahan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Syamsudin, selama ini Majelis Taklim Mahabbah yang ia pimpin selalu berkegiatan di Islamic Center Bekasi dan Masjid Al-Fataa, Menteng.
Belakangan, Syamsudin pernah menggelar pengajian di Masjid Asy Syuhada, Gunung Sahari, Jakarta Pusat.
Sejak tahun 2014, kata Ghuffron, kawan lamanya tersebut memang rutin menggelar pengajian di Masjid Al-Fataa yang dikelola Yayasan Kesejahteraan Pemuda Islam Indonesia itu.
"Mereka hanya menumpang. Pengajian itu terbuka untuk umum. Isinya untuk meningkatkan pengetahuan sebagai seorang muslim," ucap Ghuffron.
Ghuffron menyatakan tidak mengikuti setiap pengajian yang digelar Majelis Taklim Muhabbah. Yang ia dengar, pengajian itu tak hanya membicarakan khalifah, tapi juga pengetahuan keagaaman lain seperti ekonomi syariah.
Setelah Hari Raya Lebaran tahun 2014, Kepolisian dan pejabat setempat tidak lagi mengeluarkan izin bagi pengajian yang diinisiasi Syamsudin.
"Kami tidak lihat ada pengajaran yang pro-ISIS, tapi ternyata lama-lama ada yang melihat seperti itu," kata Ghuffron.
“ABC akan mempertahankan berita itu,” ujar Harvey.
ABC, dalam pemberitaannya, mengatakan menyaksikan pertemuan rahasia simpatisan ISIS di sebuah masjid di Jakarta Pusat. Pertemuan itu diyakini sebagai wadah perekrutan militan di ibu kota.
Juru kamera ABC yang merupakan warga negara Indonesia memperoleh akses ke pertemuan itu meski semula ada upaya untuk menghentikannya merekam pertemuan. (pit/agk)