“Kemarin kami sudah rapat. Akhirnya nama dia (Rifan) dicoret karena sudah mencoreng masjid,” kata Ketua Pengurus Masjid Asy Syuhada, Agus Salim, kepada CNNIndonesia.com.
Agus kaget karena pengajian yang dimintakan izin untuk digelar oleh Rifan berujung pada pemberitaan negatif. Agus juga merasa dibohongi oleh Rifan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agus pun senang karena pikirnya, remaja-remaja di lingkungannya mulai kembali rajin mengaji. Terlebih, Rifan mengatakan pengajian akan bertemakan kajian tauhid.
Agus tidak menghadiri pengajian itu karena mesti mewakili keluarganya dalam acara lamaran. Setibanya kembali, warga melapor bahwa pertemuan di Masjid Asy Syuhada dihadiri sekitar 70 orang, termasuk ibu-ibu dan anak kecil.
"Anak-anak lapor ke saya, saat mau salat zuhur, masjid ramai diisi orang tak dikenal. Ada juga yang melapor kalau materi kajiannya seperti itu," kata Agus tanpa mau merinci seperti apa materi yang dia maksud.
Agus telah menjelaskan dan mengklarifikasi hal itu ke Kepolisian. Dia sendiri yang melapor ke polisi.
Rifan meminta Syamsudin untuk menjadi khotib di masjidnya. Sang ustaz menyambut dan meminta izin untuk membawa jemaat.
"Saat bertemu ya terlintas dia ustaz biasa saja. Ustaz kan memang dakwah, masak dihalangi," kata Rifan.
Sebelumnya, ABC mengklaim menyaksikan pertemuan rahasia simpatisan ISIS di sebuah masjid di Jakarta Pusat yang diyakini merupakan wadah perekrutan militan di ibu kota.
Awak media tersebut mengklaim pertemuan rahasia itu terjadi di masjid Asy Syuhada yang terletak di sebuah jalan yang tidak cukup besar untuk dimasuki mobil. Lokasi masjid tidak disebutkan dengan jelas.
Juru kamera ABC yang merupakan warga negara Indonesia memperoleh akses ke pertemuan itu. Meski terdapat upaya untuk menghentikannya merekam pertemuan itu, wartawan ABC itu mengatakan berhasil mendapatkan rekaman yang cukup jelas.
"Mereka menyatakan bahwa wilayah itu merupakan wilayah Negara Islam [ISIS] di mana hukum Allah ditegakkan sepenuhnya, dan di mana tidak ada intimidasi dari negara-negara asing," ujar ulama garis keras bernama Syamsudin Uba dalam pertemuan itu di Masjid Asy Syuhada itu, sebagaimana dikutip dari ABC.
Syamsudin Uba yang dihubungi melalui sambungan telepon, membantah menyebarkan propaganda ISIS. "Tema kami jelas, kajian strategis khilafah menguasai dunia menghapus penjajahan. Kami bicara khilafah, tidak bicara ISIS," kata dia.
Syamsudin pernah ditangkap polisi karena diduga menyebarkan paham radikal ISIS di Alor, Nusa Tenggara Timur, tahun lalu. Namun dia kemudian dilepas karena tak ada cukup bukti. (agk)