Arief berkata, pada pemilihan kepala daerah di Melawi Desember 2015 silam, Petrus bahkan mendapatkan tugas untuk mendampingi salah satu calon bupati.
Tindak pidana mutilasi yang dituduhkan kepada Petrus, menurut Arief, di luar dugaan insitusinya. "Dalam aktivitas sehari-hari, keadaannya baik-baik saja,” ujarnya saat ditemui di Melawi, seperti dilansir Antara, Sabtu (27/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan informasi terakhir yang ia kumpulkan dari penyidik, Arief berkata, kesehatan Petrus yang kini ditahan kepolisian dalam kondisi baik. Namun, Petrus disebut terus meracau, menyebut mutilasi yang dilakukannya merupakan perintah dari Tuhan.
Untuk mendukung penyidikan, Wakil Direktorat Kriminal Umum Polda diperintahkan memimpin kerja personel Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) dan para dokterforensik.
Diberitakan sebelumnya, Brigadir Petrus Bakus menjadi tersangka kasus mutilasi dua anak kandungnya yang masih balita. Kepolisian menyebut, peristiwa itu terjadi di rumah Petrus.
Kabid Humas Polda Kalbar, Ajun Komisaris Besar Arianto menuturkan, Petrus diduga melakukan perbuatan keji tersebut lantaran mengidap schizophrenia.
Perilaku aneh Petrus mulai terlihat pada Jumat (26/2), sekitar pukul 00.00 WIB. Petrus disebut membawa kedua anaknya, Fabian (4) dan Amora (3), ke rumah dinas Kasat Intel Ajun Komisaris Amad Kamiludin di Asrama Polres Melawi.
Sesampainya di rumah Amad, Petrus hanya bertemu dengan Kapolsek Menukung, Ajun Komisaris Sofyan. Mendapati orang yang dicari tidak ada, Petrus pun memilih kembali pulang ke asrama.
Pada saat itulah perbuatan keji Petrus terjadi. Petrus dikatakan memutilasi dua anaknya ketika istrinya terlelap. Istrinya terbangun ketika Petrus datang dengan membawa parang yang berlumuran darah dan hendak membunuh istrinya.
Berdasarkan pengakuan dari sang istri, kata Arief, Petrus belakangan sering marah-marah dan mengaku kerap mendapat bisikan. (abm)