“Korea belum tentu mendapatkan semua teknologi Amerika. Perlu negosiasi. Oleh sebab itu Korea juga mengembangkan teknologi sendiri. Soal ini harus kami selesaikan dalam waktu dua-tiga tahun ke depan. Teknologi mana yang bisa dapat dari Amerika, dan mana ya tidak sehingga dicari dari sumber lain,” ujar Heri Yansyah, Kepala Program KF-X/IF-X PT Dirgantara Indonesia.
Direktur Utama PTDI Budi Santoso berkata, “Jujur saja, tidak ada satu perusahaan pun yang akan memberikan teknologi kuncinya kepada siapapun. Yang namanya transfer teknologi, yang kita dapatkan itu bukan teknologi kunci.”
KF-X/IF-X lebih tepat disebut jenis pesawat semisiluman –mengadopsi teknik geometri pesawat siluman, namun tak menggunakan material jet siluman.
“KF-X/IF-X mendekati pesawat tempur generasi kelima (stealth fighter), tapi tidak menyaingi,” kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI, Andi Alisjahbana, dalam wawancara dengan CNNIndonesia.com.
Pun, mengharapkan lisensi sejumlah komponen avionik sepeti radar dan rudal yang masih diproduksi terbatas oleh negara-negara besar seperti AS, agak sulit.
“Kebijakan Amerika, kerahasiaan teknologi kunci harus dijaga, tidak boleh diberikan ke siapapun dan negara manapun,” kata Eris Herryanto, Wakil Ketua Komite Kebijakan Industri Pertahanan RI.
Walau begitu, ujar Eris, perusahaan-perusahaan Korea Selatan yang bergerak di bidang teknologi sejak dua tahun lalu mulai mengembangkan teknologi jet tempur. “Sekarang memang belum selesai, tapi tingkat keberhasilannya sudah mendekati 100 persen.”
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertahanan RI Anne Kusmayati mengatakan, total tak kurang dari 74 jenis teknologi yang harus dimiki suatu pesawat tempur, mulai aerodinamik, struktur, persenjataan, sistem logistik teintegrasi, dan lain-lain.
Berbagai teknologi dalam pengembangan KF-X/IF-X dibagi dalam paket pekerjaan. “Ada yang bisa diikuti Indonesia, ada yang tidak. Tapi Korea tetap memberikan kesempatan,” kata Anne.
Kompatibel dengan AS
Teknologi yang akan digunakan dalam KF-X/IF-X sesungguhnya bukan hanya berasal dari AS. “Ada teknologi Eropa juga, tapi bukan Rusia. Tapi memang lebih banyak teknologi Amerika,” kata Andi.
Ini karena Korea Selatan dan AS selama ini memang bersekutu. “Korsel memiliki pakta pertahanan dengan Amerika. Jadi semisal Korsel diserbu Korea Utara, Amerika akan menolong,” ujar Andi.
Untuk itu peralatan tempur Korea Selatan dengan AS mesti kompatibel satu sama lain. “Kalau Korsel pakai peluru lima milimeter, Amerika tujuh mili, ya tidak masuk ke senjatanya sehingga jika peluru Korsel habis, tidak bisa pakai peluru Amerika. Sederhananya begitu,” imbuh Andi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
F-35 Lighting II, jet tempur siluman terbaru buatan raksasa dirgantara Amerika Serikat, Lockheed Martin. Lockheed menawarkan transfer teknologi ke Korea Selatan untuk mengembangkan KF-X/IF-X. (U.S. Navy photo courtesy Lockheed Martin)
Pesawat tempur siluman F-22 Raptor Amerika Serikat unjuk kekuatan dengan terbang di wilayah Korea Selatan menyusul langkah Korea Utara melakukan uji coba nuklir dan meluncurkan roket satelit. AS dan Korsel yang mengikat diri dalam pakta pertahanan akan kembali menggelar latihan militer bersama. (REUTERS/Wolfgang Rattay)