"RUU Karantina ini merupakan revisi dari UU No 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, karena dinilai sudah tidak relevan," kata Ketua Panitia Kerja RUU Karantina Ibnu Multazam pada diskusi "Forum Legislasi: RUU Karantina" di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta, Selasa.
Menurut Ibnu Multazam, draft RUU Karantina saat ini sedang diharmonisasi di Badan Legislasi DPR untuk segera disetujui menjadi RUU Karantina, usulan DPR RI.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, RUU Karantina yang lama berada di bawah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Bea Cukai.
"Melalui revisi ini akan menguatkan keberadaan karantina, baik kelembagaan maupun fungsinya dalam menseleksi bahan pangan yang memenuhi persyaratan," kataya.
Melalui revisi UU Karantina ini, kata dia, diharapkan dapat menjadi badan penjaga kakayaan keanekaragaman hayati Indonesia yang lebih kuat.
Menurut Multazam, selama ini diplomasi Indonesia dengan asing lemah dan belum melindungi keanekaragaman Indonesia.
Dia mencontohkan, komodo yang merupakan satwa khusus Indonesia, tapi dipinjamkan ke negara Chekoslowakia dan sekarang sudah beranak pinak.
Multazam mengingatkan, saat ini sudah memasuki era perdagangan bebas Asean, dimana transksi perdagangan di kawasan Asean menjadi lebih bebas untuk sebagian komoditas.
"UU Karantina ini dapat menghambat perdagangan bebas melalui penerapan persyaratan," katanya. (pit/antara)