"Di anjungan sesuai prediksi semula, kemungkinan nakhoda. Jadi posisi dia berada di belakang kemudi, hingga akhir hayatnya masih memegang kendali," ungkap Komandan Pangkalan Angkatan Laut (DanLanal) Banyuwangi, Letkol Laut (P) Wahyu Endriawan usai evakuasi, Minggu (6/3/2016) seperti dilaporkan detikcom.
Jenazah yang ditemukan telah dievakuasi dari bangkai kapal dan dibawa ke tepi pantai Ketapang dengan kapal milik TNI AL Banyuwangi. Kemudian, jenazah yang dimasukkan ke dalam kantong mayat dibawa ke RSUD Blambangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Direktur Operasional Basarnas, Brigjen TNI (Mar) Ivan Ahmad Rizki Titus kepada detikcom, karakteristik arus Selat Bali, sangat berbeda dengan perairan lainnya. Arus dominan kencang saat sore hingga malam hari. Sedangkan pada pagi hari kondisi arus berubah-ubah.
"Jarak pandang memang pendek. Selain itu kondisi di dalam kapal gelap karena posisi kapal terbalik, lumpur yang terbawa arus juga mengganggu pengelihatan," tambahnya. Penyelam akan mencari di permukaan perairan yang berjarak hingga 2 mil dari lokasi tenggelamnya kapal.
Dalam pencarian, Sabtu (4/3) tim mengevakuasi empat korban meninggal. Mereka adalah Eloh Masturoh dan anaknya Mohammad Ramlan warga Olehsari, Kecamatan Glagah Banyuwangi, Agus Tia warga Karawang dan Puji Purnomo.