Mengutip data yang terpantau oleh Satelit Modis Sensor Terra Aqua milik Amerika Serikat, Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan titik panas tersebut berada di Kalimantan, Sulawesi,dan Sumatera.
"Penyebab karhutla tetap sama, yaitu akibat kecerobohan dan pembakaran. Artinya sengaja dibakar," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sutopo mengatakan sebanyak 76 titik terdeteksi di Kalimantan Timur, Riau (45), Aceh (11), Kalimantan Utara (7), Sulawesi Tengah (2), Gorontalo (2), Sulawesi Selatan (2) dan satu titik, masing-masing di Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Maluku Utara dan Jawa Timur.
Di Kalimantan Timur, sembilan titik panas terdapat di Kabupaten Berau, Kutai Kartanegara (16), Kutai Timur (50) dan Bontang (1).
"Kondisi cuaca di Riau dan Kalimantan Timur kering. Wilayah di Riau saat ini memasuki kemarau periode pertama hingga April mendatang," kata Sutopo.
"Kondisi air sumur dan air permukaan sudah mulai menipis sehingga menyulitkan petugas saat memadamkan api," kata Sutopo.
Sutopo mengatakan, karhutla di Riau dan Kalimantan Timur sebenarnya sudah berlangsung hampir tiga minggu dengan jumlah titik panas yang fluktuatif.
Jumlah titik panas di Kalimantan Timur, kata Sutopo, kali ini lebih banyak daripada daerah lain di Indonesia. Sutopo menyebut peristiwa ini sebagai anomali karena karhutla di Kalimantan Timur biasanya relatif lebih sedikit dibandingkan daerah lain.