Para pendemo meminta agar Menkominfo Rudiantara mundur apabila tidak bisa mengatasi masalah tersebut. Sebab dengan tidak menutup Grab Car dan Uber Car, pemerintah dianggap mengadu domba para pengemudi angkutan umum di DKI Jakarta.
"Kami tidak takut persaingan tapi persaingan yang sehat. Jakarta dengan izin yang ada saja sudah macet. Apa lagi ditambah kendaraan plat hitam yang tak berizin. Rudiantara, munduuur," teriak Humas PPAD Surhato saat memimpin orasi di depan Kemkominfo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pendemo sebelumnya berkumpul di depan kawasan Monumen Nasional (Monas) sebelum melanjutkan aksinya di Kemkominfo dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).
"Kita PPAD jalan dari Kemayoran, ada 500 akan ke Kemkominfo dan DPR," kata salah satu koordinator pendemo PPAD Deri, Selasa (22/3).
Dia mengatakan, pendemo akan terus melakukan unjuk rasa sampai semua tuntuannya dikabulkan oleh pemerintah. "Kita enggak akan berhenti," tuturnya.
Rombonan pendemo diarahkan melewati pintu masuk Monas oleh petugas polisi yang berjaga untuk menuju Kemkominfo. Polisi sudah menjaga titik demo sejak pagi.
"Dari pagi, mau mausk lewat monas, ke Kemkominfo," ujar seorang anggota polisi yang enggan disebutkan namanya.
Massa unjuk rasa PPAD akan secara langsung menyampaikan aspirasi tuntutan pembekuan perusahaan aplikasi yang menjadi perantara beroperasi angkutan ilegal seperti Grab Car dan Uber Car.
PPAD menilai perusahaan aplikasi tersebut telah melanggar Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Angkutan Jalan. (obs)