Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Inspektur Jenderal Anton Charliyan, Rabu (23/3), mengatakan Polri tidak mengusulkan nama pemimpin
Mujahidin Indonesia Timur itu untuk dimasukkan ke dalam daftar teroris Abang Sam.
Karena itu, menurut Anton, penetapan Santoso sebagai teroris di Amerika Serikat membuktikan ancamannya sudah berskala internasional. "Buktinya di tempat Santoso (Poso, Sulawesi Tengah) ada warga asing dari Uighur. Selain itu ada pendanaan juga dari ISIS," kata Anton saat ditemui CNNIndonesia.com di kantornya, Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Video tersebut diunggah oleh akun Facebook bernama Bahrun Naim Anggih Tamtomo, akhir 2015 lalu. Bahrun diyakini Polri berada di Suriah, menjadi petinggi ISIS yang mengotaki serangan teror di Thamrin, Jakarta, sebulan setelahnya.
"Mungkin mereka punya data sendiri. Karena terorisme ini kan kejahatan internasional," ujarnya.
Penetapan status ini, kata Anton, adalah kewenangan masing-masing negara. Karena itu, tidak mungkin Polri meminta Amerika untuk menetapkan Santoso sebagai terduga teroris.
"Sebagai hasil dari penetapan ini, semua properti dalam yurisdiksi AS yang memiliki kepentingan dengan Santoso diblokir dan warga AS secara umum dilarang bertransaksi dengan Santoso," bunyi pernyataan Kemlu AS.
Saat ini Santoso sendiri belum berhasil ditangkap dan masih bersembunyi di Pegunungan Biru, Poso, Sulawesi Tengah. Pria yang diduga bertanggung jawab atas serangkaian serangan teroris itu kini diburu lewat operasi bersandi Tinombala, setelah operasi Camar Maleo yang digelar sepanjang 2015 gagal menangkapnya.
Tak Butuh Bantuan Asing
Meski belum juga berhasil menangkap Santoso, Anton mengatakan Polri tidak berencana meminta bantuan pasukan Amerika Serikat yang sudah mengakui ancaman si teroris.
Buktinya, kata dia, petugas belakangan terus menerus terlibat dalam baku tembak dengan kelompok Santoso. "Bantuan pasukan tidak, karena kita masih mampu.
Kerjasama cukup pertukaran data saja, kalau bisa masalah bangsa dan negara kita selesaikan sendiri," kata Anton.
Dia mengatakan keberhasilan menangkap Santoso hanya soal waktu. Kini, kata Anton, teroris berjulukan Pak Bos itu sudah terdesak di pegunungan yang bermedan berat. "Orang luar negeri malah tidak akan mampu dihadapkan medan berat seperti ini," kata Anton. (bag)