Komnas HAM kata Siane menilai BNPT dan Densus 88 tidak terbuka mengenai aliran dana kedua lembaga tersebut. “Hal ini membuat kecurigaan mengenai independensi dari kedua lembaga tersebut,” kata Siane dalam rilis yang diterima CNN Indonesia.com, Rabu (30/3).
Siane yang menjabat sebagai Koordinator Sub Komisi Pemantauan dan Penyelidikan Komnas Hak Asasi Manusia mengatakan kedua lembaga itu seharusnya transparan tentang sumber dana yang diperolehnya. Apalagi katanya dugaan adanya kepentingan asing di sini semakin menguat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat hal tersebut, Siane menilai ada kepentingan dalam BNPT dan Densus 88 jika dilihat dari sumber dana yang diperoleh. Menurutnya, selama ini kedua lembaga tersebut hanya menyudutkan salah satu kelompok saja. “Begitu pun dengan kasus terduga teroris, Siyono yang tewas saat pemeriksaan,” kata dia.
Badrodin juga menegaskan uang itu bukan untuk membungkam keluarga Siyono. "Sogok mana maulah orang," ujarnya.
Seandainya terjadi lagi kejadian serupa terhadap terduga teroris lain, Badrodin tidak menjanjikan akan memberi perlakuan yang sama. Menurutnya, hal itu tergantung pada kebijakan satuan wilayah yang menangani kasus masing-masing.
Suratmi mengaku mendapat dua bungkus diduga berisi gepokan uang dari seseorang yang mengaku pihak kepolisian. Uang itu diberikan sebagai ungkapan duka cita atas kematian suaminya saat penangkapan yang dilakukan Tim Detasemen Khusus 88.
Dia mengungkap pemberian uang itu di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta. Keluarga Siyono telah menunjuk PP Muhammadiyah untuk memberikan bantuan advokasi lantaran merasa masih berada dalam ancaman.
Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, Suratmi diminta untuk mengikhlaskan kepergian suaminya. Meninggalnya Siyono dianggap sebagai sebuah takdir yang tidak bisa dielakkan. (bag)