Perusahaan yang berkantor pusat di Bekasi, Jawa Barat, itu merupakan tempat kerja sepuluh warga negara Indonesia yang saat ini disandera Abu Sayyaf.
"Komunikasi mereka (antara PT Patria Maritime dan Abu Sayyaf) baik. Perusahaan siap membayar," ujar Luhut di kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (4/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diberitakan sebelumnya, Abu Sayyaf disebut meminta tebusan sebesar Rp15 miliar untuk sepuluh warga negara Indonesia yang mereka sandera.
Meski demikian, kata Luhut, TNI kemungkinan besar akan mengirim beberapa perwira untuk mendukung operasi militer yang digalang angkatan bersenjata Filipina.
Siang tadi, usai rapat terbatas terkait pembebasan sepuluh anak buah kapal Brahma 12 yang disandera Abu Sayyaf, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengumumkan keputusan Filipina yang tidak memperbolehkan TNI masuk ke negara tersebut.
"Mereka memiliki konstitusi yang bunyinya kurang lebih, 'pelibatan tentara asing dalam wilayah Filipina harus diatur dalam sebuah treaty'," kata Retno.
Retno menuturkan, Presiden Joko Widodo memerintahkannya untuk terus menjalin komunikasi dengan pemerintah Filipina.
Hingga saat ini, menurut Retno, negara yang dipimpin Presiden Benigno Simeon Cojuangco Aquino itu menunjukkan komitmen besar terhadap pembebasan sepuluh warga negara Indonesia. (bag)