Padahal landasan udara milik TNI itu digunakan sebagai pusat penerbangan pemerintah dalam negeri maupun internasional.
"Seharusnya aspek keamanan dan keselamatan tidak dipertanyakan lagi. Apalagi presiden-presiden di seluruh dunia pasti take off dan landing di sini," kata Michael saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (7/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menuturkan, Bandara Halim berfungsi sebagai bandara yang sangat penting. Karena itu sangat fatal jika tidak memiliki landasan yang memberikan tempat bagi pesawat untuk take off dan landing.
"Kami meminta semua stake holder bisa melakukan pembenahan koordinasi secara permanen dan komprehensif," ucapnya.
Komisi V DPR sengaja melakukan sidak hari ini untuk menyelidiki penyebab insiden tabrakan pesawat Batik Air dan Transnusa pada Senin (4/4).
Dua pesawat bertabrakan di runway bandara yakni Batik Air berjenis Boeing 737-800 reg PK-LBS rute HLP-UPG (Ujung Pandang), bertabrakan dengan pesawat Transnusa jenis ATR reg PK-TNJ.
Pesawat Batik rute Halim Perdanakusuma-Ujung Pandang dengan registrasi PK-LBS katanya sudah dirilis untuk take off oleh menara pengawas (ATC). Ketika melakukan proses take off, pesawat bersenggolan dengan pesawat Transnusa yang saat itu tengah ditarik oleh traktor.
(obs)