Sanusi yang kini menjadi tersangka dugaan suap di Komisi Pemberantasan Korupsi, mengganti dua anggota fraksi dalam Badan Legislasi Daerah (Balegda) DPRD DKI yang sebelumnya diisi Taufik Hadiawan dan Rany Mauliani dengan dirinya dan Syarif pada Oktober 2015.
"Pak Sanusi ini kan ketua, jadi dia punya kewenangan untuk mengganti anggota. Waktu itu dia (Sanusi) dan Pak Syarief yang menggantikan dua anggota lainya. Alasannya karena urgent saja saat itu," kata anggota fraksi Gerindra, Prabowo Soenirman saat dihubungi, Sabtu (9/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergantian personel ini muncul dalam surat usulan tentang susunan pimpinan dan anggota Badan Legislasi Daerah DPRD DKI masa jabatan tahun 2014-2019. Usulan ini telah disetujui dan ditandatangani Ketua DPRD DKI Prasetio Edi Marsudi tanggal 22 Oktober 2015 lalu.
Usulan pemerintah ini, kata Tuty, tak disambut baik oleh DPRD DKI Jakarta ketika mengutarakan pendapatnya dalam rapat pada 25 November 2015 dan 30 November 2015.
Selanjutnya, pada 4 Desember 2015, Gubernur Provinsi DK Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok menyampaikan jawaban atas penyampaian fraksi. Kemudian pada 21 Desember 2015 hingga 16 Februari 2016 pembahasan pasal-pasal pun dimulai.
"Saya ikut yang pembahasan awal, itu awalnya belum ada angka lima persen. DPRD menganggap kontribusi tambahan 15 persen itu memberatkan pengembang. Jadi mereka tidak sepakat dan minta konsolidasi dulu," kata Deputi Gubernur DKI Jakarta Bidang Tata Ruang Oswar Muadzin.
Belum juga rampung, konsolidasi naskah akhir raperda ini kembali dibahas di lokasi yang sama. M Taufik menyerahkan dua lembar berisikan usulan perubahan pasal terkait kontribusi tambahan. "Pembahasan deadlock, terutama yang terakhir bahkan ada perubahan pasal," kata Oswar.
Selain Sanusi, KPK menetapkan dua tersangka yakni Presiden Direktur PT Agung Podomoro Land Ariesman Widjaja dan pegawai Agung Podomoro Trinanda.
Berdasarkan informasi yang dihimpun CNNIndonesia.com, KPK telah menyadap telepon seluler Sunny dan menemukan ada komunikasi antara Sunny dengan bos pengembang pulau reklamasi PT Agung Sedayu Group, Sugianto Kusuma alias Aguan. (yul)