Peragaan megah armada udara Republik Indonesia itu seakan hendak menunjukkan taji TNI AU –institusi yang dibangun Komodor Suryadi Suryadarma dan kawan-kawan 70 tahun silam, kala Indonesia bayi baru lahir dan situasi serbasulit.
Yang disebut pangkalan udara pada masa itu misalnya, ialah lapangan apapun, termasuk padang rumput tandus. Benar-benar darurat. Penentuan pangkat para penerbang militer pun amat mudah, tak pakai pikir panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak cuma itu, Sekolah Penerbang di Maguwo Yogyakarta amat minim fasilitas. Semula tak ada gedung di sekolah itu. Para kadet belajar di bawah pohon waru, tepi lapangan udara. Sungguh-sungguh seadanya.
Pesawat Cureng peninggalan Jepang yang dipakai oleh TNI Angkatan Udara ketika Indonesia baru merdeka. (Dok. tni-au.mil.id) |
“Kalian menerbangkan peti mati,” kata salah seorang penerbang Inggris.
Namun kondisi itu tak membuat ciut nyali. Deretan tokoh tak kenal lelah merintis dan membangun dunia penerbangan Indonesia.
Nurtanio Pringgoadisurjo dan timnya misal membuat pesawat tempur antigerilya Sikumbang, pesawat latih Belalang, pesawat olahraga Kunang, pesawat penyemprot hama Kinjeng, dan pesawat serbaguna Gelatik. Nurtanio juga menggagas Lembaga Persiapan Industri Penerbangan yang merupakan cikal bakal Industri Pesawat Terbang Nusantara (kini PT Dirgantara Indonesia).
Sahabat Nurtanio, Jacob Salatun, tak kalah antusias. Ia menggagas berdirinya Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. Begitu pula dengan Wiweko Soepono yang berperan penting di balik pembelian pesawat angkut pertama Indonesia, Seulawah. Wiweko, di kemudian hari, ditunjuk menjadi Direktur Utama Garuda Indonesia.
Nurtanio, Salatun, dan Wiweko dikenal sebagai tiga sekawan. Ketiganya berjasa besar dalam dunia dirgantara Indonesia dengan cara mereka masing-masing. Pun demikian dengan tokoh-tokoh lain.
“Mereka merintis industri pertahanan strategis sekaligus membangun membangun kekuatan udara Indonesia,” kata mantan Kepala Staf Angkatan Udara Chappy Hakim kepada CNNIndonesia.com, Rabu (16/3).
Semangat dan kepeloporan para perintis, ujarnya, mesti dijaga tak lekang zaman. (agk)
Pesawat Cureng peninggalan Jepang yang dipakai oleh TNI Angkatan Udara ketika Indonesia baru merdeka. (Dok. tni-au.mil.id)