Luhut menantang para pihak yang selalu menggunakan dokumen itu untuk memberikan pembuktian dengan cara menggali kuburan massal.
"Silakan tunjukkan buktinya, gali kuburan masal jika memang ada ratusan ribu atau jutaan orang itu. Jangan wacana saja," kata Luhut di Universitas Indonesia, Rabu (20/4).
Lihat juga:Mencoba Berdamai dengan Sejarah Kelam |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Minta maaf kepada siapa? Korban yang mana?" ujar Luhut.
Pada berbagai sesi di simposium itu, para korban satu per satu memberikan kesaksian mereka. Mereka berkata, pembunuhan, pemenjaraan tanpa proses peradilan hingga kekerasan seksual merupakan kejahatan yang umum terjadi pada Tragedi 1965.
Sejumlah kamp atau penjara di beberapa daerah juga disebutkan para korban, antara lain Plantungan, Jawa Tengah; Pulau Buru, Maluku dan Bukit Duri, Jakarta.
Lihat juga:Kisah Kuburan Massal Korban G30S di Semarang |
Mereka yang dimakamkan di tempat tersebut, dituding berkaitan dengan aktivitas Partai Komunis Indonesia.
"Mereka dibawa ke sini dengan mata tertutup dan diikat tali, tersambung satu dengan yang lain", ujar Mbah Sukar (81), seorang saksi mata.
Sukar berkata, para korban itu ditembak mati satu per satu begitu sampai di Hutan Plumbon.
Lihat juga:LIVE: Simposium Nasional Tragedi 1965 |