"Presiden memberi tahu bahwa disuruh cari saja kalau ada kuburan massal korban pelanggaran 1965," kata Luhut usai bertemu Jokowi, Senin (25/4).
Menurut Luhut, selama ini terdapat banyak laporan yang mengatakan terdapat ratusan ribu orang mati akibat pelanggaran HAM selama periode 1965. Padahal, klaimnya, sampai hari ini pemerintah belum pernah menemukan satu kuburan massal pun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Silakan kapan dia (aktivis) tunjukkan, Menkopolhukam akan pergi dengannya," kata Luhut.
Wakil Ketua Komnas HAM, Dianto Bachriadi, menyatakan Jokowi telah berbohong terkait penyelesaian kasus Tragedi 1965.
"Tidak benar jika Presiden belum pernah mendapatkan laporan tentang perkembangan penanganan penyelesaian perkara-perkara HAM berat, termasuk kasus 1965," ucap Dianto.
Jokowi berkata, pemerintah akan tetap konsekuen menyelesaikan sejumlah kasus pelanggaran HAM. Ia menuturkan, pemerintah tidak ingin perkara-perkara tersebut diungkap secara konfrontatif.
Jokowi mengaku belum mendapatkan laporan tentang upaya penyelesaian yang dilakukan beberapa lembaga negara yang berwenang menangani kasus pelanggaran HAM, seperti Komnas HAM, Kejaksaan Agung, Kemenko Polhukam dan Kemenkumham.
"Saya laporan sedikit saja belum dapat. Enggak usah dikomentari dulu supaya tidak malah panas. Kami mau selesaikan kok, bukan konfrontasi dengan siapapun," ucapnya seperti dilansir Detikcom.
Pernyataan tersebutlah yang kemudian disanggah Dianto. Ia memaparkan, pada peringatan Hari HAM 10 Desember 2014, Komnas HAM telah menyerahkan seluruh ringkasan eksekutif hasil penyelidikan yang mereka lakukan. (bag)