Perempuan etnis Tionghoa kala itu menjadi sasaran utama aksi pemerkosaan. Menurut aktivis perempuan Andy Yentriyani, pelaku memilih dulu calon korban sebelum beraksi. Sembari berkeliling di jalanan, bus, hingga pertokoan, mereka mencari perempuan Tionghoa dan membiarkan pribumi.
Dialog atas Tragedi Mei 1998 yang akan berlangsung di Sekretariat Indonesia Tionghoa (Inti), Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/5), diinisiasi Generasi Muda Indonesia Tionghoa (Gema Inti) DKI Jakarta bekerja sama dengan Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanegara, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan, komunitas korban Tragedi Mei 1998, dan berbagai lembaga swadaya masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seakan kerusuhan tak cukup mencekam, pemerkosaan oleh sekelompok lelaki terjadi di sana-sini. Tercatat setidaknya 85 orang menjadi korban kekerasan seksual berdasarkan data Tim Gabungan Pencari Fakta yang dibentuk di masa pemerintahan Habibie.
Acara ini, menurut komunitas Tiongkoa, digelar sebagai penghormatan bagi para korban Tragedi Mei 1998, dan sebagai bentuk imbauan kepada pemerintah agar tak melupakan peristiwa kelam itu, dan berupaya keras menyingkap kebenaran di baliknya
Salah satu narasumber yang bakal berbicara dalam acara itu, Ketua Subkomisi Partisipasi Masyarakat Komnas Perempuan Mariana Amiruddin, mengatakan negara harus meminta maaf atas Tragedi Mei 1998 dengan cara mengungkap kebenaran.
“Agar keadilan tercapai, pengungkapan kebenaran secara hukum melalui pengadilan, karena korban dan masyarakat Indonesia harus tahu siapa pelaku dan seperti apa peristiwa sebenarnya. Itu bisa dilakukan melalui penyidikan dan investigasi mendalam," ujarnya kepada CNNIndonesia.com.
Mariana berharap pemerintah Indonesia dapat memulihkan psikologis dan merehabilitasi para korban yang selama ini hidup tersiksa oleh trauma Mei 1998. (agk)