Ancaman untuk Relawan Mei 1998: Bunuh Anda Perkara Mudah!

Yuliawati | CNN Indonesia
Kamis, 19 May 2016 14:05 WIB
Pria pencegat itu berkata: saya rekrut 60 orang dari berbagai angkatan, bisa memerkosa dengan mudah, dan membunuh seperti membalikkan telapak tangan. Sandyawan Sumardi kerap mendapat ancaman karena aktivitasnya mendampingi para korban pemerkosaan Mei 1998. (CNN Indonesia/Yuliawati)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ahad sore bulan Mei 1998, Sandyawan Sumardi diundang meresmikan pendirian Tim Relawan untuk Kemanusiaan (TRK) di Gereja Katedral, Jakarta.

Sandyawan yang menjabat Sekretaris TRK menyampaikan perkembangan kondisi di Jakarta dan meminta agar para anggota TRK untuk berhati-hati. Dia bercerita, dalam sepekan terakhir mendampingi dua perempuan korban pemerkosaan yang kondisinya sangat parah.

Usai menyampaikan pesan, Sandyawan memberikan kesempatan kepada para anak muda mengajukan pertanyaan. Seorang pria berbadan tegap dan berambut cepak mengacungkan jari dan bertanya.


“Romo kan juga orang yang seharusnya masuk penjara karena melindungi anak-anak Partai Rakyat Demokratik (dalam peristiwa 27 Juli 1996)?” kata pria tak dikenal itu diulang Sandyawan saat ditemui CNNIndonesia.com, Senin (16/5).

Secara spontan, Sandyawan menjawab, “Anda intel ya?”

Pria itu menyambutnya dengan tertawa terbahak. Melihat gelagat yang mencurigakan, Sandyawan menganjurkan panitia menyudahi pertemuan.

Ketika Sandyawan melangkahkan kaki keluar gereja bersama empat anggota panitia pertemuan yang kebetulan perempuan, pria berambut cepak yang bertanya kepadanya di dalam gereja, mencegatnya.

Pria itu menjinjing tas berwarna hitam, dan berkata kepada Sandyawan bahwa tas itu berisi data operasi selama 12-14 Mei 1998.

“Saya ini bukan intel, tetapi saya salah seorang komandan yang memimpin operasi di sekitar Pasar Minggu. Saya merekrut 60 orang dari berbagai angkatan. Saya bisa perkosa perempuan-perempuan ini (sambil menunjuk empat gadis Tionghoa yang berdiri di samping Sandyawan). Bagi saya, membunuh Anda itu perkara mudah, seperti membalikkan telapak tangan!”

Setelah mengakhiri perkataannya, muncul mobil hitam. Pria itu segera beranjak masuk ke dalam mobil.

Sejak teror itu, Sandyawan dan para relawan membuat keputusan bersama untuk saling menjaga teman perempuan mereka.

“Setiap ada kegiatan, anggota TRK yang perempuan jangan dibiarkan sendiri, harus ditemani yang laki-laki. Setiap hendak pulang, mereka harus selalu diantar sampai ke rumahnya,” kata dia.
Bukan hanya sekali Sandyawan mendapat ancaman. Dia dikirimi granat aktif di Posko TRK yang berlokasi di Jalan Arus Dalam Nomor 1, Cawang, Jakarta Timur, akhir Mei 1998.

Sandyawan melapor kepada polisi dan tim khusus antiteror mendatangi kantor itu.

“Namun keesokan harinya Kapolda Metro Jaya Hamami Nata menyebutnya sebagai granat-granatan, padahal menurut Tim Gegana yang mengamankan di lokasi itu granat aktif,” kata Sandyawan.
Ancaman juga diterima Ita Fatia Nadia yang saat itu menjadi Koordinator TRK Divisi Kekerasan terhadap Perempuan.  Beberapa kali Ita diancam lewat telepon dan surat kaleng, memaksanya menghentikan kegiatan mengoordinasikan pendampingan kepada korban pemerkosaan.

Setiap menerima ancaman lewat telepon, Ita menjawab tegas bahwa dia tidak akan berhenti menolong korban.

Ancaman-ancaman itu bukan pepesan kosong. Sekitar seminggu setelah menerima ancaman, anak Ita dijemput dua orang tak dikenal. Untung saja, ketika si anak hendak dibawa, guru TK melihat dan menarik anaknya.

“Saya syok betul, sempat down. Sejak itu saya menitipkan kedua anak saya kepada orangtua,” kata Ita.

Hampir seluruh relawan korban pemerkosaan Tragedi Mei 1998 mendapat ancaman. Selain relawan, para korban, keluarga korban, dokter dan pihak rumah sakit mendapatkan teror yang sama.

Teror dimulai ketika para relawan dan aktivis memberikan pendampingan kepada para korban, mengumpulkan data, hingga berupaya menyuarakan ke masyarakat dunia mengenai apa yang terjadi selama Mei 1998.

Dibunuh

Teror paling nyata yang dirasakan para aktivis dan relawan korban pemerkosaan Tragedi Mei 1998 adalah pembunuhan kepada Ita Marthadinata pada Oktober 1998. Ita yang masih 18 tahun dan bersekolah di SMU Paskalis, Jakarta Pusat, dibunuh secara keji oleh Suryadi alias Otong alias Bram.

Menurut Ita Fatia, kondisi jenazah Ita Marthadinata yang ditemukan di kediamannya sungguh mengerikan. “Lehernya hampir putus dan alat kelaminnya ditancap kayu,” kata dia.

Pembunuhan Marthadinata terjadi seminggu setelah tim relawan mengumumkan akan memberangkatkan beberapa saksi ke Sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat, untuk memberikan kesaksian mengenai pemerkosaan, kekerasan seksual, dan pembunuhan massal selama Mei 1998.
Ita Marthadinata merupakan salah satu korban pemerkosaan yang bersedia memberikan kesaksian secara terbuka. Ita Fatia meyakini kematian Ita Marthadinata sebagai bentuk teror agar korban berhenti bersuara atas peristiwa pemerkosaan masal.

Kepiluan atas kematian Ita Mathadinata bertambah dengan adanya pemberitaan beberapa media massa yang malah menyudutkan korban.

“Hampir semua media mengkriminalisasi korban, dengan menyebutkan dia memiliki kelainan seksual,” kata Ita.

Meski bekerja dalam ancaman dan teror, tim relawan dan aktivis terus bekerja bahu-membahu. Mereka berhasil mendorong Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) menghasilkan dokumen resmi yang menyatakan terjadi pemerkosaan selama Mei 1998.

Tim relawan dan para aktivis juga berupaya menyuarakan kepada masyarakat dunia bahwa Tragedi Mei 1998 merupakan bentuk kejahatan hak asasi manusia. Mereka pun berhasil mendorong pemerintah mendirikan lembaga Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). (yul/agk)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER