Menurut Kepala Seksi Perencanaan, Perlindungan, dan Pengawetan Balai Besar TNGGP Aden Mahyar potensi hambatan ini disebabkan karena kawasan TNGGP dekat dengan kota-kota besar seperti Bogor, Cianjur, dan Sukabumi sehingga banyak aktivitas masyarakat sekitar yang dapat mengancam wilayah konservasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perburuan burung jadi ancaman. Marak terjadi di daerah Sukabumi. Tapi itu dulu, sekarang sudah berkurang," kata Aden.
"Burung 'kacamata' dan 'raja udang' yang banyak diburu, dipancing untuk keluar kawasan," kata Aden.
Selain itu, kebakaran hutan juga masih menjadi ancaman rusaknya kawasan konservasi ini. Selama tahun 2015, terjadi sekitar dua kali kebakaran hutan di areal TNGGP. Pada Agustus lalu sekitar 100 m3 wilayah hutan terbakar. Tak lama dari itu, kebakaran hutan juga terjadi lagi dimana sekitar tujuh hektare kawasan hutan terbakar pada September lalu. Kebakaran hutan tersebut biasanya dipicu oleh musim kemarau dan pembakaran lahan hutan milik warga sekitar yang merambat ke kawasan TNGGP.
"Potensi kebakaran ada karena aktifitas perkebunan masyarakat di sekitar hutan konservasi," tambahnya.
Lebih lanjut, guna mencegah ancaman kerusakaan wilayah konservasi terjadi, Aden menyatakan pihaknya berupaya membatasi pengunjung yang datang ke TNGGP setiap harinya. Dalam satu hari, pihak TNGGP hanya menerima pengunjung sebanyak 600-700 orang. Hal ini, menurut Aden dilakukan agar pengunjung dapat secara optimal berada dalam pengawasan pengurus TNGGP selama berada di kawasan konservasi.
Balai Besar TNGGP juga melakukan penutupan berkala. Dua kali dalam setahun TNGGP tidak beroperasi. Yakni antara bulan januari hingga maret dan bulan Agustus setiap tahunnya.
"Kami tutup untuk umum pada awal tahun, saat itu seperti saat-saat puncak dimana tumbuhan dan satwa disini bereproduksi dan recovery jadi kita biarkan mereka, jangan diganggu," kata Aden.
Penutupan TNGGP juga dilakukan pada saat musim kering atau kemarau yakni sekitar bulan Agustus. Ini dilakukan untuk mencegah aktivitas masyarakat dan pengunjung di wilayah konservasi yang dapat memicu terbakarnya hutan.
"Musim kemarau kami tutup untuk umum karena aktivitas warga di atas gunung saja rawan menimbulkan kebakaran seperti buang puntung rokok sembarangan dan buat api unggun," tambah Aden.