"Saya memahami saya junior, tapi karena saya prajurit, saya patuh pada perintah, apalagi perintah Presiden," kata Tito di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (16/6).
Meski demikian, Tito menilai, senioritas memang penting di tubuh Polri. Tapi senioritas bukan satu-satunya faktor yang menentukan dalam menjalankan tugas sebagai pemimpin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tito mengatakan, dirinya sudah biasa bekerjasama dengan senior-seniornya di Korps Bhayangkara. Karenanya, menjadi pemimpin Polri sudah bukan jadi masalah baru bagi mantan Kapolda Metro ini.
Sebelumnya, Ketua Presidium Indonesia Police Watch Neta Pane mengatakan, Presiden Joko Widodo bisa merusak tatanan dan sistem kaderisasi di tubuh Polri dengan menunjuk Tito sebagai calon tunggal Kapolri.
Neta menilai, mengangkat dan memberhentikan Kapolri merupakan hak prerogatif presiden, namun seharusnya Jokowi memperhatikan jenjang karir dan kepangkatan di kepolisian.
Pasal 11 ayat 6 Undang-undang Kepolisian menyebut calon Kapolri adalah Perwira Tinggi Kapolri yang masih aktif dengan memperhatikan jenjang kepangkatan dan karier. Menurut Neta, Tito masih terlalu muda untuk diangkat menjadi orang nomor satu di Korps Bhayangkara.
"Masih ada lima angkatan di atasnya dan pensiunannya masih sangat panjang sampai tahun 2022. Tentu kurang sehat bagi organisasi Polri," kata Neta. (sur)