“Panglima TNI berencana membuat Natuna jadi pangkalan militer,” kata Wakil Ketua Komisi I Hanafi Rais usai rapat tertutup dengan Kementerian Pertahanan dan Panglima TNI di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, semalam.
Anggaran untuk membangun pangkalan militer di Natuna, ujar Hanafi, sesungguhnya telah dialokasikan sejak tahun lalu. Namun ia mengaku lupa besarannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekuatan AU di Natuna juga akan dilengkapi radar, penangkis udara, drone, dan pesawat tempur. Namun sebelum pesawat tempur dikirim ke Natuna, landasan pacu di sana akan diperbaiki lebih dulu.
Untuk armada Angkatan Laut di Natuna, akan dibangun dermaga untuk kapal patroli yang dilengkapi satu kompi marinir. Selain itu, Ryamizard mengatakan Natuna perlu dijaga kapal selam.
Sementara Angkatan Darat akan dilengkapi satu Batalyon Raider yang merupakan salah satu pasukan elite TNI.
Posisi Natuna di barat laut Kalimantan berhadapan langsung dengan wilayah sengketa Laut China Selatan. (Wikimedia Commons/Hobe/Holger Behr) |
Sementara fasilitas di Lanud Ranai akan ditingkatkan bertahap, termasuk memperpanjang landasan pacunya agar bisa didarati pesawat tempur kelas berat. Lanud Ranai juga secara bertahap akan menerima distribusi kekuatan tempur TNI AU yang selama ini diparkir di Lanud Supadio, Pontianak.
Natuna sejak dulu menjadi perhatian TNI. Jenderal Moeldoko yang kala itu menjabat Panglima TNI berkata, persebaran pasukan TNI di sekeliling perairan Natuna penting untuk mengantisipasi kemungkinan infiltrasi akibat instabilitas Laut China Selatan.
Kepala Staf TNI AL Laksamana Ade Supandi akhir tahun lalu mengatakan, armadanya sehari-hari selalu berpatroli di wilayah barat maupun timur Indonesia dengan jumlah kapal perang sekitar 40 unit.
Selat Malaka dan Laut Natuna di barat Indonesia dijaga 20 kapal perang. Demikian pula Ambalat dan Laut Arafuru di timur Indonesia dijaga 20 kapal.
“Yang diajukan jauh dari harapan kami (Komisi I). Lebih banyak untuk alokasi alat utama sisten senjata, kesejahteraan TNI, perumahan, dan lain-lain,” kata Hanafi.
Dari total anggaran tersebut, ujar politikus PAN putra Amien Rais itu, 40 persen akan digunakan untuk kebutuhan rutin, 20 persen untuk belanja barang alias alutsista, dan sisanya untuk belanja modal. (agk)
Posisi Natuna di barat laut Kalimantan berhadapan langsung dengan wilayah sengketa Laut China Selatan. (Wikimedia Commons/Hobe/Holger Behr)