Data sementara yang dihimpun Pusat Pengendalian Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Utara, bencana tersebut terjadi di Kota Manado, Kota Tomohon, Kabupaten Minahasa Selatan, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Kabupaten dan Kepulauan Sangihe.
"Data sementara, dampak bencana banjir dan longsor di Sulawesi Utara adalah 4 tewas, 1 orang hilang, dan ratusan rumah rusak," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho melalui siaran pers, Rabu (22/6).
Lihat juga:Banjir dan Longsor Serang Kabupaten Sangihe |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di Kabupaten Kepulauan Sitaro (Siau Tagulandang Biaro) terjadi bencana banjir dan tanah longsor di Kecamatan Siau Barat Utara, Desa Kinali, Kecamatan Siau Timur Selatan, Kecamatan Siau Timur, dan Kecamatan Siau Barat.
Kemudian, jembatan Kiawang putus akibat banjir bandang sehingga akses 5 kampung di Kecamatan Siau Barat Utara ke pusat kota terputus.
"Belum ada laporan korban jiwa di Kabupaten Kepulauan Sitaro," katanya.
Lihat juga:Banjir dan Longsor di Sangihe |
Banjir, longsor, gelombang tinggi dan cuaca ekstrem juga menerjang Kabupaten Kepulauan Sangihe. Daerah berbentuk pulau-pulau kecil di paling utara Indonesia ini memiliki aksesibilitas sulit dijangkau dan rawan bencana.
"Berdasarkan laporan sementara 3 orang meninggal dan 1 orang hilang, ratusan rumah rusak dan longsor terjadi di beberapa titik. Komunikasi sulit dilakukan karena listrik mati," katanya.
Hingga kini, menurut Sutopo, upaya penanganan darurat terus dilakukan. BPBD dibantu TNI, POLRI, SAR, dan masyarakat setempat telah melakukan evakuasi, pendataan dan mendroping logistik berupa makanan siap saji serta peralatan tidur.
"Pendataan pun masih dilakukan. Posko BNPB terus memantau perkembangan dan berkoordinasi dengan BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten/Kota. Logistik dan peralatan bantuan BNPB di gudang BPBD dikerahkan untuk memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak," katanya. (rel)