Kasus terbaru di perairan Sabah diduga melibatkan komplotan Abu Sayyaf seperti ketiga kasus penyanderaan sebelumnya. Kelompok militan Abu Sayyaf yang memiliki basis di selatan Filipina dikabarkan telah berbaiat pada Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
The Star melaporkan, berdasarkan keterangan Komisaris Polisi Sabah Abdul Rashid Harun, kelompok yang menculik tiga pelaut Indonesia di perairan Sabah mengenakan pakaian militer. Mereka terdiri dari lima orang, menenteng senapan laras panjang M14 dan M16, serta naik speed boat sebelum loncat ke kapal korban.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Malaysia langsung berkomunikasi dengan Filipina dan Indonesia terkait kasus ini. Tiga pelaut Indonesia tersebut berada di kapal yang terdaftar pada otoritas Malaysia. Mereka tengah mencari ikan. Sementara komplotan penculiknya diduga Malaysia merupakan kelompok Apo Mike, bagian dari Abu Sayyaf.
“Kami masih berkomunikasi dengan berbagai pihak untuk mengonfirmasi soal penyanderaan tersebut,” kata Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI, Lalu Muhammad Iqbal.
Penculikan tahap pertama terjadi pukul 11.30, sedangkan penculikan tahap kedua pukul 12.45. Kelompok penyandera lantas meminta tebusan 200 juta Peso atau sekitar Rp61-65 miliar untuk empat dari tujuh WNI yang diculik.
Sementara pada bulan Mei, dua kali pula pelaut Indonesia diculik kelompok Abu Sayyaf. Penculikan pertama menimpa 10 anak buah kapal asal Indonesia. Penculikan kedua terjadi pada empat anak buah kapal lainnya. Pada kedua kasus itu, penyandera pun meminta tebusan dalam jumlah besar. Untuk 10 orang sandera Indonesia, tebusan yang diminta ialah 50 juta peso atau sekitar Rp14,3 miliar.
Kini 14 WNI yang diculik pada Mei itu telah dibebaskan. Pemerintah RI sejauh ini membantah pembebasan sandera dilakukan dengan membayar tebusan. Pemilik kapal, PT Brahma International, pun menyatakan tak ada penyerahan uang tebusan untuk kelompok penyandera.
Meski demikian, sumber di lingkungan pemerintah menyatakan terjadi pembayaran tebusan untuk para awak kapal yang disandera. Uang tebusan itu disebut bukan berasal dari pemerintah.