Ketua Umum Persi Kuntjoro Adi Purjanto mengatakan pembelian produk obat dan vaksin menjadi salah satu yang paling tinggi dalam alokasi dana rumah sakit dalam kategori barang kefarmasian. Dia menuturkan persentase itu bisa mencapai 40—55 persen.
Menurutnya, hal itu dapat dilihat dari pendapatan kotor rumah sakit yang bisa mencapai Rp800 miliar—Rp1 triliun lebih. Pendapatan tersebut sambungnya, tergantung apakah rumah sakit itu berada di daerah atau ibu kota.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait dengan vaksin palsu, Kuntjoro menegaskan tidak semua pembelian produk vaksin itu palsu. Menurutnya, masalah tersebut bisa saja terjadi karena dugaan persengkongkolan antara pembeli vaksin dan dokter.
Kuntjoro menuturkan sebenarnya pengawasan terhadap bisnis rumah sakit dilakukan oleh sedikitnya empat pihak. Mereka adalah Satuan Pengawas Internal Rumah Sakit; Dewan Pengawas Dinas Kesehatan; Badan POM; serta Badan Pengawas Rumah Sakit.
“Lubang-lubangnyanya lebih melalui individu. Pengadaannya bisa saja tidak melalui proses farmasi (resmi), bekerja sama dengan dokternya,” katanya.
Hal itu terungkap dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan 2015-2019 dan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (Lakip) Kementerian Kesehatan 2014 dan 2015. Dalam dokumen itu dipaparkan nilai anggaran yang terserap pada 2014 mencapai Rp1,46 triliun dari total Rp1,77 triliun, sedangkan periode 2015 mencapai Rp1,74 triliun. (yul)