Namun sejumlah pengamat skeptis akan hal itu. Mereka menilai reshuffle jilid dua ini tak berbeda jauh dengan reshuffle sebelumnya. Kepentingan politik lebih mendominasi dibandingkan pertimbangan profesional untuk meningkatkan kinerja kabinet.
Lihat juga:Reshuffle Kabinet Jilid II |
Pengamat politik dari Indonesia Public Institute (IPI), Karyono Wibowo, menilai sangat kecil kemungkinan Jokowi memperbanyak jumlah orang-orang profesional dalam kabinetnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Aroma politiknya lebih kuat. Indikasinya bisa dilihat dari waktu reshuffle. Mengapa dilakukan setelah Partai Golkar dan PAN memutuskan mendukung pemerintah? Sulit dipercaya jika ada parpol yang mendukung tanpa minta timbal balik. Jadi, menurut saya, reshuffle ini adalah power sharing, bagi-bagi jatah politik di kabinet,” kata Karyono kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/7) malam.
Sebaliknya, ia menilai peningkatan kinerja mustahil terjadi jika reshuffle dilakukan semata karena pertimbangan politik. Hal senada juga diutarakan Syamsuddin Haris, Kepala Pusat Penelitian Politik LIPI.
“Semestinya reshuffle lebih didasarkan pada kinerja, bukan akomodasi politik bagi parpol pendukung Jokowi. Kalau tujuannya akomodasi politik, sulit bagi kabinet baru untuk meningkatkan kinerja mereka,” kata Syamsuddin.
Arahan itu dikonfirmasi Pratikno. Namun ia mengatakan larangan ke luar kota dalam minggu ini berkaitan dengan rencana sidang kabinet bersama Presiden Joko Widodo. Bukan karena rencana reshuffle. Menurutnya, pesan tersebut bersifat wajar karena Jokowi menginginkan seluruh menteri hadir dalam sidang kabinet.
Koalisi Gemuk
Bantahan Pratikno tak mampu meredakan isu perombakan kabinet. Terlebih, sejak dua pekan terakhir, presiden cukup intens memanggil sejumlah menteri ke istana. Pemanggilan itu masih berlanjut hingga Selasa (26/7) malam.
Isu reshuffle juga semakin menguat setelah Partai Golkar dan Partai Amanat Nasional menyatakan dukungan politiknya kepada Presiden Joko Widodo.
Kedua partai tersebut sebenarnya sudah menyatakan tidak meminta konsesi politik apapun kepada presiden. Karyono menilai pernyataan itu tak lebih dari basa-basi politik Golkar dan PAN.
Karyono meyakini Golkar dan PAN bakal mendapat jatah kursi di kabinet jika presiden jadi melakukan reshuffle. “Sulitlah untuk percaya. Dalam politik, tak ada makan siang gratis,” kata Karyono.
Hal tersebut penting agar di antara partai-partai pendukung tetap merasa nyaman dengan komposisi koalisi dan kabinet yang baru.
“Masalahnya adalah menjaga keseimbangan internal di antara partai-partai pendukung pemerintah. Untuk saat ini, wajar kalau misalnya partai-partai pendukung lama masih belum langsung lekat karena PAN dan Golkar melakukan deal langsung dengan Jokowi, bukan dengan para pimpinan partai,” kata Siti.
Sementara, Karyono menilai keberadaan Golkar dan PAN akan memperkuat posisi pemerintah di parlemen. Namun, belajar dari pengalaman Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono, Karyono mengingatkan presiden untuk mengantisipasi kemungkinan partai-partai yang bersikap mendua. Jika tak mampu mengantisipasi kemungkinan itu, bukan tak mungkin bergabungnya Golkar dan PAN justru akan melemahkan pemerintahan Joko Widodo.
(wis)