Dia menilai, wanita yang pernah duduk sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menunjukkan ekspresi kecintaan sebagai warga negara Indonesia dengan menerima ajakan bergabung kembali dari Jokowi.
"Ibu Sri menepati janjinya, dia pernah bilang 'Saya akan kembali'. Artinya, dia tidak jera meskipun di akhir masa dia di kementerian terdahulu dia sempat menangis sebelum ke Amerika Serikat. Ini ekspresi dari kecintaan warga negara kepada negaranya. Dia tidak kapok, terlepas dari kemungkinan muatan-muatan politik," kata Siti saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (27/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sri Mulyani tentunya dipilih bukan karena dia perempuan. Tapi dia kompeten, diakui internasional dan nasional. Namun, dengan tidak menggeser satu perempuan yang sudah ada di kabinet, ini sudah menjadi bentuk apresiasi presiden terhadap kaum perempuan," ujarnya.
Di tempat lain, sosok Ani yang duduk lagi sebagai Menteri dinilai sebagai cermin yang kian menunjukkan keberadaan kaum perempuan di jajaran Kabinet Kerja.
Aktivis wanita dari Jurnal Perempuan, Gadis Arivia, menyebut sosok Ani menjadi reprsentasi pentingnya peranan perempuan di pemerintahan.
"Perkembangan di Amerika Serikat dengan sosok perempuan yang bersaing sebagai presiden itu terus menjalar dan membuktikan bahwa peranan perempuan semakin penting. Sosok Ibu Sri Mulyani adalah figur perempuan yang sangat inspiring, mampu menunjukan profesionalitas dan dedikasi. Bahkan, beliau mempunyai sosok sebagai kepala negara juga," kata Gadis, saat dihubungi.
Masuknya Ani dalam Kabinet Kerja membuat jumlah kursi kementerian yang ditempati oleh perempuan menjadi sembilan kursi. Meski begitu, Gadis menilai keberadaan perempuan dalam kementerian masih dianggap kurang.
"Untuk populasi yang lebih dari 200 jutaan, sembilan perempuan itu sangat belum cukup. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau saja bisa menyebut bahwa setengah kabinetnya harus perempuan, karena dia menilai perempuan bisa memajukan dunia. Harusnya, sosok perempuan di kabinet juga bisa diisi dengan jumlah 50 persen karena banyak masalah perempuan yang tidak sejahtera," ujarnya.
Dia juga menilai, figur perempuan menjadi penting karena permasalahan negara yang berkaitan dengan kemiskinan, ketertinggalan ekonomi serta masalah angka kematian ibu dan anak, berkaitan besar dengan peran perempuan.
"Semakin banyak perempuan di dalam kabinet, dunia akan semakin lebih baik. Semua problem yang ada di Indonesia ini kalau tidak melibatkan lebih banyak perempuan maka tidak akan ada perubahan," katanya. (rdk)